Banjir Sumut dan Keberlangsungan Orangutan Terancam

Orangutan. (Foto: Dok Centre for Orangutan Protection)
Medan, MISTAR.ID
Banjir besar yang terjadi di Indonesia baru-baru ini dinilai sebagai ancaman ekstrem bagi keberlangsungan Orangutan Tapanuli, salah satu kera besar paling langka di dunia. Kondisi tersebut terjadi karena kawasan hutan di Sumatra Utara (Sumut) yang menjadi habitat utama spesies ini mengalami kerusakan berat akibat terjangan banjir bandang dan longsor yang dipicu cuaca ekstrem.
Orangutan Tapanuli yang secara ilmiah dikenal sebagai Pongo tapanuliensis hanya hidup di wilayah terbatas Batang Toru, Sumatra Utara, dan baru diakui sebagai spesies tersendiri pada 2017. Populasinya di alam liar diperkirakan tidak mencapai 800 individu, sehingga sangat rentan terhadap perubahan lingkungan sekecil apa pun.
Pendiri sekaligus Ketua Pusat Informasi Orangutan, Panut Hadisiswoyo, menegaskan bahwa dampak kehilangan individu sangat besar bagi spesies tersebut.
"Kehilangan seekor orangutan saja merupakan pukulan telak bagi kelangsungan hidup spesies ini," ujarnya, dikutip dari detikinet, Minggu (14/12/2025).
Sejumlah laporan menyebutkan banjir besar itu telah merusak sebagian besar habitat alami orangutan Tapanuli, termasuk hutan yang selama ini menjadi sumber makanan sekaligus tempat berlindung.
Para pakar konservasi menilai kerusakan tersebut sebagai gangguan serius yang dapat berdampak langsung pada keberlangsungan spesies, mengingat jumlah populasinya yang sangat terbatas.
Konservasionis orangutan senior Erik Meijaard memperkirakan sekitar enam hingga 11 persen individu orangutan kemungkinan besar tidak selamat akibat bencana tersebut.
"Angka kematian individu dewasa apa pun yang melebihi satu persen, akan mendorong spesies tersebut menuju kepunahan, terlepas dari seberapa besar populasinya di awal," ungkapnya.
Meijaard menjelaskan bahwa citra satelit menunjukkan bekas longsoran besar yang membelah lanskap pegunungan, dengan beberapa di antaranya memanjang lebih dari satu kilometer dan memiliki lebar hampir 100 meter. Aliran lumpur, pepohonan tumbang, dan air yang meluncur dari lereng bukit menyapu apa pun yang dilewatinya, termasuk satwa liar lain seperti gajah.
Kerusakan habitat ini semakin memperburuk kondisi spesies yang sebelumnya sudah berada di ambang kepunahan. Hilangnya kawasan hutan berarti berkurangnya sumber pakan serta terputusnya jalur pergerakan antarindividu, yang krusial bagi reproduksi dan keberlanjutan populasi.
Sementara itu, ahli penginderaan jarak jauh sekaligus pendiri perusahaan rintisan konservasi The Tree Map, David Gaveau, mengaku terkejut melihat perbedaan kondisi wilayah sebelum dan sesudah bencana.
"Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya selama 20 tahun saya memantau deforestasi di Indonesia dengan satelit," katanya.
Para pakar lingkungan kini mendesak langkah cepat untuk memperkuat perlindungan habitat yang masih tersisa serta mencegah kerusakan lanjutan, guna memastikan ancaman kepunahan terhadap orangutan Tapanuli tidak benar-benar menjadi kenyataan. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Akses Jalan Sumut-Aceh Sudah Bisa DilaluiBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















