Sunday, July 5, 2026
home_banner_first
KULINER

Kanji Rumi Masjid Raya Aceh Sepakat Medan Jadi Menu Buka Puasa Ramadan 2026, Dana Dialihkan untuk Banjir Aceh Tamiang

Mistar.idSenin, 23 Februari 2026 pukul 15.22 WIB
kanji_rumi_masjid_raya_aceh_sepakat_medan_jadi_menu_buka_puasa_ramadan_2026_dana_dialihkan_untuk_banjir_aceh_tamiang

Pembuatan bubur kanji rumi di Masjid Raya Aceh Sepakat, Jalan Mengkara, Medan Petisah. (Foto: amita/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Aroma rempah yang tajam menyeruak dari pelataran Masjid Raya Aceh Sepakat, Jalan Mengkara, Medan Petisah. Di atas tungku besar, adonan diaduk perlahan selama tiga jam hingga menghasilkan bubur lembut dengan isian udang dan ayam. Itulah Kanji Rumi, sajian legendaris yang selalu dinanti setiap Ramadan tiba di masjid yang terletak di kawasan Jalan Amarullah ini.

Sejak tahun 1996, tradisi memasak bubur kanji khas Aceh ini tak pernah terputus. Namun, Ramadan 2026 membawa nuansa yang sedikit berbeda. Tidak ada lagi keriuhan santap bersama nasi kari lembu (kuah beulangong) yang biasanya mampu menyedot ribuan jemaah.

Keputusan meniadakan menu makan berat tahun ini bukan tanpa alasan. Ahmad Basri, mantan pengurus BKM sekaligus jemaah setia masjid tersebut, menjelaskan bahwa pengurus sepakat mengalihkan dana operasional konsumsi ke pos bantuan kemanusiaan.

"Tahun ini kita tiadakan makan bersama nasi dan kari. Fokus kita ke Aceh Tamiang yang kemarin terkena bencana banjir. Dana yang biasanya digunakan untuk itu, dikirim ke sana. Padahal biasanya, setiap sore 1.000 sampai 1.500 orang berbuka di sini dengan kuah beulangong," kata Ahmad Basri, Senin (23/2/2026).

Langkah ini menunjukkan identitas asli Aceh Sepakat, sebuah perkumpulan warga Aceh di Medan yang berdiri sejak 1960-an dan mengedepankan solidaritas bagi sesama warga di tanah kelahiran. Meskipun biaya buka puasa selama sebulan bisa mencapai Rp1 miliar, pengurus memilih tetap sederhana demi membantu saudara yang tertimpa musibah.

Meski nasi kari absen, Bubur Kanji Rumi tetap menjadi bintang utama. Sebanyak 1.000 kantong disiapkan setiap hari. Menariknya, bubur ini tidak hanya menggunakan beras, tetapi juga diperkaya dengan protein seperti ayam dan udang, serta campuran rempah khas yang dimasak dengan telaten.

"Masaknya sekitar 2,5 sampai 3 jam. Rempahnya sangat khas, lebih terasa cita rasa Aceh. Biasanya 500 porsi habis untuk jemaah di sini, sisanya kita bagikan kepada masyarakat sekitar dan para musafir yang datang," ujar Ahmad.

Masjid Raya Aceh Sepakat bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi simbol keberadaan masyarakat Aceh di Medan. Ahmad mengisahkan, gedung yang berdiri megah saat ini mulai dibangun pada tahun 2000 oleh tokoh-tokoh Aceh, seperti Mustafa Sulaiman.

Hanya butuh waktu sekitar satu tahun untuk merampungkan pembangunan masjid beserta aula pertemuan di sisinya. Kini, gedung pertemuan tersebut rutin disewakan untuk berbagai acara sebagai sumber dana operasional masjid secara mandiri.

"Aceh Sepakat ini perkumpulan orang Aceh sejak tahun 1964. Gedung ini dibangun pada tahun 2000 untuk mendukung kegiatan masyarakat Aceh. Ornamen di dalamnya sederhana, fokus pada kalimat-kalimat Al-Qur’an, tetapi bangunannya merupakan salah satu yang terbesar di Medan," tutur Ahmad.

Di bulan suci ini, Masjid Raya Aceh Sepakat tetap teguh menjalankan perannya. Jika jemaah ingin merasakan nikmatnya rempah Kanji Rumi, mereka dapat datang sebelum waktu berbuka. Sebagian dinikmati di masjid menggunakan mangkuk melamin khas, sebagian lainnya dibawa pulang untuk disantap bersama keluarga.

Sebuah mangkuk bubur mungkin tampak sederhana, namun di dalamnya terkandung rasa persaudaraan yang kental serta doa-doa yang terpanjat bagi mereka yang sedang berjuang di Aceh Tamiang.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN