Friday, June 5, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Sering Makan Mi Instan Aman atau Berbahaya? Ini Batas Konsumsinya Menurut Dokter

Mistar.idSabtu, 10 Januari 2026 07.00
journalist-avatar-top
sering_makan_mi_instan_aman_atau_berbahaya_ini_batas_konsumsinya_menurut_dokter

Ilustrasi konsumsi mi instan. (foto: (iStockphoto/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Mi instan dikenal sebagai penyelamat saat lapar melanda. Praktis, murah, dan rasanya menggugah selera. Namun, di balik kelezatannya banyak orang bertanya-tanya: seberapa sering mi instan sebenarnya aman dikonsumsi?

Dokter spesialis gizi, Inge Permadi, menjelaskan mi instan pada dasarnya hanya menyumbang karbohidrat, sedikit protein, dan lemak. Masalah utamanya bukan terletak pada mi, melainkan pada kadar garam yang terkandung di dalam bumbunya.

“Rasa gurih yang membuat mi instan digemari berasal dari garam. Kalau kandungannya terlalu tinggi, tentu ada risikonya,” ujar Inge.

Menurutnya, dampak mi instan terhadap kesehatan sangat bergantung pada total asupan garam harian seseorang. Risiko akan meningkat jika mi instan dikonsumsi bersamaan dengan makanan lain yang juga tinggi garam, seperti gorengan, makanan cepat saji, atau lauk olahan.

Asupan garam berlebihan dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Bahkan, konsumsi mi instan yang terlalu sering sejak usia muda berpotensi meningkatkan risiko hipertensi di kemudian hari. Padahal, batas aman konsumsi garam yang dianjurkan adalah kurang dari 5 gram per hari.

Lalu berapa kali mi instan boleh dimakan dalam seminggu?

Dokter Inge menegaskan tidak ada angka pasti. Frekuensi aman sangat bergantung pada cara mengonsumsinya dan bagaimana mi instan dikombinasikan dengan makanan lain.

Mi instan masih bisa menjadi pilihan jika diperlakukan sebagai sumber karbohidrat, lalu dilengkapi protein dan sayuran. Namun, penggunaan bumbu sebaiknya dibatasi agar tidak terlalu asin.

“Kalau mi dianggap sebagai karbohidrat, lalu ditambah protein, sebenarnya bisa jadi makanan yang lebih seimbang. Kuncinya, bumbunya jangan dipakai semua,” katanya.

Dalam pola makan sehat, kebutuhan gizi ideal terdiri dari sekitar 50–60 persen karbohidrat, 10–15 persen protein, dan lemak kurang dari 30 persen. Artinya, mi instan sebaiknya tidak dikonsumsi sendirian.

Agar lebih sehat, mi instan dapat ditambahkan lauk berprotein seperti telur, ayam, tahu, atau tempe, serta sayuran seperti sawi, wortel, atau bayam.

Kesimpulannya, mi instan bukan makanan yang harus dihindari sepenuhnya. Namun, frekuensi konsumsi dan cara penyajiannya perlu dikontrol. Jika dikonsumsi sesekali dan dipadukan dengan bahan makanan bergizi, mi instan masih bisa menjadi bagian dari pola makan sehari-hari.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN