Mabuk Perjalanan: Gejala, Penyebab, dan Siapa yang Paling Berisiko

Ilustrasi masyarakat yang alami mabuk perjalanan di berbagai jenis transportasi. (foto: GeminiAI/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr M Allif Maulana Syafrin Lubis, M.Ked (PD), Sp.PD, menjelaskan bahwa mabuk perjalanan atau motion sickness merupakan kumpulan gejala yang muncul sebagai respon tubuh terhadap gerakan yang dipersepsikan.
Menurut Allif, mabuk perjalanan terjadi karena ketidakcocokan stimulus neural dari visual dan sistem vestibular di otak. Hal ini memicu berbagai gejala yang dapat dialami saat berada di kendaraan.
"Gejala yang dialami beragam, sering berupa mual, muntah, perut tidak nyaman, kehilangan nafsu makan, lemas, keringat dingin, kepala pusing, kehilangan keseimbangan, hingga pingsan," ujar Allif, Sabtu (28/3/2026).
Dokter Klinik Utama Rawat Jalan RL Dermatoclinic ini menyebut beberapa faktor yang meningkatkan risiko mabuk perjalanan, antara lain jenis kelamin, usia, level kebugaran, kondisi medis, dan hormon.
"Pertama, jenis kelamin. Perempuan biasanya lebih peka terhadap mabuk perjalanan dibanding laki-laki," ujarnya.
Kedua, usia. Mabuk perjalanan biasanya muncul pada anak usia enam tahun, dengan frekuensi tertinggi di usia sembilan tahun. Pada remaja, kejadian ini menurun, sedangkan pada orang tua lebih jarang terjadi.
Ketiga, level kebugaran. Orang dengan level aerobic fitness tinggi cenderung lebih peka terhadap mabuk perjalanan karena sistem autonomi mereka lebih reaktif.
Keempat, kondisi medis. Pasien dengan vertigo, patologi vestibular, penyakit Meniere, dan migraine berisiko lebih tinggi mengalami mabuk perjalanan.
Terakhir, faktor hormonal. Fluktuasi hormon saat hamil atau siklus menstruasi dapat meningkatkan kepekaan terhadap mabuk perjalanan, kata dokter Rumah Sakit Umum Alfuadi Binjai ini. (hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Tips Biar Badan Rileks Lagi Setelah Mudik





















