Kasus TB di Pematangsiantar Baru 15 Persen, Dinkes Waspadai Fenomena Gunung Es

Ilustrasi penyakit TB. (foto:istimewa/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Upaya pemberantasan penyakit Tuberkulosis (TB) di Kota Pematangsiantar tengah menjadi sorotan tajam. Hingga Maret 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat melaporkan bahwa angka penemuan kasus baru baru menyentuh 15 persen dari target tahunan yang ditetapkan.
Rendahnya angka deteksi ini memicu kekhawatiran akan adanya fenomena gunung es, di mana banyak penderita di masyarakat yang belum teridentifikasi dan berpotensi menularkan bakteri kepada orang di sekitarnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) per April 2026, tercatat baru ada 242 kasus yang berhasil ditemukan oleh fasilitas kesehatan (faskes). Ironisnya, tren penemuan kasus per bulan justru menunjukkan penurunan. Pada Januari mencapai 99 kasus, Februari 81 kasus, dan Maret 62 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pematangsiantar, Misran, melalui Pengelola Data TB, Watini Simatupang, menegaskan bahwa angka ini menuntut kerja ekstra dari seluruh pihak faskes.
"Capaian 15 persen ini adalah alarm bagi kita semua. Fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, harus lebih agresif melakukan skrining dan pelacakan kasus di lapangan," ujar Watini, Senin (13/4/2026).
Beberapa faskes menunjukkan performa yang cukup baik dalam melakukan deteksi dini. Di tingkat puskesmas, Puskesmas Kartini memimpin dengan 16 kasus, diikuti Puskesmas Martoba (15 kasus), serta Puskesmas Khezan dan Pasaribun masing-masing 11 kasus.
Sementara itu, di level rumah sakit, RS TK IV 01.07.01 menjadi yang paling aktif dengan temuan 38 kasus, disusul RS Efarina Etaham dengan 22 kasus. Namun, Dinkes mencatat masih ada beberapa rumah sakit yang melaporkan nol temuan kasus, yang akan menjadi bahan evaluasi kinerja ke depannya.
Dinas Kesehatan mengimbau warga untuk tidak ragu memeriksakan diri jika merasakan gejala-gejala yang merujuk pada TB. Penanganan dini adalah kunci untuk memutus rantai penularan.
Gejala TB yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu, demam yang hilang timbul, penurunan berat badan secara drastis, berkeringat di malam hari meski tanpa aktivitas, dan sesak napas.
"Jangan takut untuk berobat. Pemeriksaan dan obat-obatan TB tersedia secara gratis di seluruh puskesmas dan rumah sakit milik pemerintah. Semakin cepat dideteksi, semakin besar peluang sembuh total tanpa menulari keluarga," tambah Watini.
Selain pemeriksaan medis, masyarakat diajak untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai benteng pertahanan utama, seperti menggunakan masker saat batuk atau flu, tidak meludah sembarangan di tempat umum, memastikan ventilasi rumah baik agar sinar matahari dan sirkulasi udara lancar, serta menjalani pengobatan hingga tuntas bagi pasien agar tidak terjadi resistensi obat.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan kesadaran masyarakat, diharapkan target eliminasi TB di Pematangsiantar dapat segera tercapai dan kesehatan warga tetap terjaga. (hm27)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















