Isu Epilepsi Menular Lewat Ludah Kembali Ramai, Dokter Tegaskan Ini

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Jakarta, MISTAR.ID
Media sosial kembali diramaikan perdebatan mengenai epilepsi. Kali ini, isu yang mencuat adalah anggapan bahwa epilepsi dapat menular melalui saliva atau ludah, terutama saat penderita mengalami kejang. Perdebatan tersebut banyak muncul di media sosial, khususnya TikTok, dan memicu kekhawatiran masyarakat.
Sejumlah unggahan dan kolom komentar memperlihatkan pro dan kontra, bahkan ada warganet yang mengaku takut menolong penderita epilepsi karena khawatir tertular. Kondisi ini dinilai memperpanjang stigma terhadap epilepsi, meski secara medis penyakit tersebut telah lama dipastikan tidak menular.
Melansir Epilepsy Foundation, epilepsi merupakan gangguan neurologis akibat aktivitas listrik abnormal di otak. Penyakit ini tidak disebabkan oleh infeksi, virus, maupun bakteri, sehingga tidak dapat menular melalui sentuhan, udara, ataupun ludah.
Secara global, sekitar 50 juta orang hidup dengan epilepsi. Di Indonesia, jumlah penderitanya diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2,4 juta orang. Namun, pemahaman masyarakat terhadap epilepsi dinilai masih rendah.
Dokter spesialis bedah saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong, Wienorman Gunawan, menegaskan bahwa isu epilepsi menular merupakan informasi keliru yang terus berulang, termasuk melalui media sosial.
“Penyakit saraf tidak menular. Epilepsi tidak bisa menular lewat air liur, sentuhan kulit, atau berada di dekat pasien. Justru saat kejang, pasien sangat membutuhkan pertolongan,” kata Wienorman dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026), dilansri dari CNNIndonesia.
Ia menyebutkan, ketakutan akibat informasi yang salah justru berisiko membahayakan penderita epilepsi karena tidak segera mendapatkan pertolongan saat kejang. Menurutnya, epilepsi murni merupakan gangguan medis pada otak yang bekerja melalui sinyal listrik. Pada penderita epilepsi, sinyal tersebut melonjak secara tidak normal dan berulang sehingga memicu kejang atau gangguan kesadaran.
Wienorman juga menegaskan epilepsi bukan gangguan kejiwaan dan tidak berkaitan dengan hal mistis. Penyebabnya beragam, mulai dari cedera kepala, infeksi otak, stroke, tumor, hingga faktor bawaan. Meski demikian, pada sebagian kasus penyebab pastinya memang tidak selalu ditemukan.
Ia menjelaskan, epilepsi tidak selalu ditandai dengan kejang hebat. Pada beberapa penderita, gejala bisa berupa tatapan kosong tiba-tiba, melamun sesaat, gerakan kecil berulang, atau kehilangan kesadaran singkat.
“Jika sering mengalami episode blank atau kejang tanpa demam, jangan diabaikan. Itu tanda otak memberi sinyal untuk segera diperiksa,” ujarnya.
Terkait pertolongan pertama, Wienorman mengimbau masyarakat tetap tenang saat menyaksikan seseorang mengalami kejang epilepsi. Langkah yang dianjurkan antara lain memiringkan tubuh pasien, menjauhkan benda keras di sekitarnya, melonggarkan pakaian di area leher, serta mencatat durasi kejang bila memungkinkan.
Ia menekankan agar tidak memasukkan benda apa pun ke dalam mulut pasien dan tidak menahan gerakan kejang secara paksa. Setelah kejang berhenti, pasien sebaiknya dibiarkan beristirahat hingga kesadarannya pulih.
“Kejang memang bisa merampas kendali tubuh seseorang selama beberapa menit. Namun, kesalahpahaman dan stigma jangan sampai merampas hak penderita epilepsi untuk ditolong dan hidup dengan bermartabat,” tuturnya. (hm25)






















