Dianjurkan Puasa Gula Tambahan Selama 14 Hari

Gula. (Foto: Istimewa/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Gula pada dasarnya tidak berbahaya bagi tubuh. Namun, konsumsi gula tambahan secara berlebihan dan berlangsung lama dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius. Asupan gula, terutama yang berasal dari minuman manis, menambah kalori tanpa memberikan nilai gizi yang berarti. Kondisi ini kerap berujung pada kenaikan berat badan dan obesitas di berbagai kelompok usia.
Berat badan yang terus meningkat kemudian berkontribusi pada naiknya risiko penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2, gangguan jantung, hingga beberapa jenis kanker.
Selain itu, konsumsi gula tambahan berlebih juga berkaitan dengan masalah kesehatan gigi serta dapat memengaruhi suasana hati dan kemampuan berpikir. Sejumlah penelitian bahkan mengaitkannya dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan.
“Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa gula tidak sekadar menambah kalori. Gula secara diam-diam membajak nafsu makan, keinginan makan, insulin, dan lemak di hati. Itulah sebabnya saya meminta pasien mencoba 14 hari tanpa gula tambahan,” ujar dokter spesialis gastroenterologi dr Saurabh Sethi, dikutip dari NDTV, Rabu (7/1/2026).
Karena itu, puasa dari gula tambahan dinilai penting bagi kesehatan tubuh. Menurut dr Sethi, menghentikan konsumsi gula tambahan selama 14 hari dapat memberikan sejumlah efek positif, mulai dari perut yang terasa lebih rata, kualitas tidur yang membaik, hingga sinyal lapar yang lebih teratur.
Puasa gula selama dua pekan juga disebut mampu menekan dorongan untuk ngemil serta membantu memperbaiki kadar gula darah puasa.
“Menghindari gula tambahan selama 14 hari adalah reset metabolik, bukan sekadar tren penurunan berat badan,” ucapnya.
Manfaat lain yang dapat dirasakan antara lain memperbaiki lonjakan insulin, mengurangi beban kerja hati akibat gula, menurunkan retensi cairan, mengatur ulang sensitivitas rasa, serta mengurangi lemak visceral.
Meski demikian, dr Sethi menegaskan bahwa tidak semua jenis gula harus dihindari. Buah-buahan tetap aman dikonsumsi karena mengandung vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan tubuh.
Ia juga menjelaskan bahwa tubuh akan mengalami fase penyesuaian saat mulai menghentikan gula tambahan. Pada sebagian orang, fase ini bisa terasa cukup berat. Gejalanya meliputi keinginan makan berlebihan, sakit kepala, rasa lelah, mudah marah, hingga kabut otak atau brain fog. Namun, seiring waktu, keluhan tersebut akan mereda dan energi tubuh menjadi lebih stabil.
“Ini bukan gejala putus zat. Ini adalah proses otak Anda menyesuaikan ulang sinyal rasa senang,” tuturnya. (hm20)






















