Friday, June 5, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Anak Jadi Kelompok Paling Rentan Alami Trauma Pascabencana di Sumatra

Mistar.idMinggu, 4 Januari 2026 06.00
EH
SH
anak_jadi_kelompok_paling_rentan_alami_trauma_pascabencana_di_sumatra

Anak-anak korban terdampak bencana banjir Sumatera. (Foto: Kemendikdasmen/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Bencana yang melanda tiga provinsi di Sumatra pada akhir November 2025 tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Tetapi juga menimbulkan dampak psikologis bagi masyarakat secara umum, dan khususnya bagi anak-anak.

Psikolog Anak dan Remaja, Katherina, menegaskan bahwa anak merupakan kelompok paling rentan mengalami trauma pascabencana.

“Bencana besar yang melanda beberapa provinsi di Sumatera sangat mungkin berdampak pada kondisi psikologis seluruh lapisan masyarakat, baik dari anak-anak sampai pada lansia,” ujar Katherina kepada Mistar, Sabtu (3/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa dampak psikologis yang muncul dapat bervariasi, mulai dari yang ringan hingga paling berat, tergantung pada pengalaman yang dialami masing-masing individu.

Menurutnya, pengalaman kehilangan anggota keluarga, rumah yang rata dengan lumpur tanah, hingga hidup dalam kondisi terisolasi tanpa listrik dan air selama berhari-hari akan mempengaruhi kondisi mental dengan cara yang berbeda.

“Semua pengalaman yang berbeda, akan berdampak pada kondisi psikologis yang berbeda pula,” katanya.

Psikolog klinis anak di Pedia Clinic Cemara Asri Medan itu menyebutkan, faktor usia juga sangat menentukan tingkat kerentanan seseorang terhadap dampak bencana. Anak-anak dinilai lebih rentan karena perkembangan otak mereka belum matang sehingga sulit memahami situasi yang terjadi.

“Biasanya anak-anak yang mengalami bencana akan lebih rentan karena perkembangan otak mereka belum matang sehingga mereka sulit memahami apa yang terjadi. Mereka juga masih sangat bergantung pada orang dewasa,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa anggapan anak-anak terlihat baik-baik saja setelah bencana merupakan pemahaman yang keliru. Menurutnya, ketidakmampuan anak mengungkapkan perasaan dengan kata-kata tidak berarti mereka tidak merasakan dampaknya.

“Biarpun mereka tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata karena perkembangan otak mereka belum optimal, hal ini akan menjadi trauma berkelanjutan jika tidak ditangani dengan baik,” ucap Katherina menegaskan.

Reaksi Psikologis pada Awal Bencana

Pada fase awal pasca bencana, reaksi psikologis yang umum muncul antara lain kecemasan berlebihan, mudah panik, sulit tidur, mimpi buruk, mudah marah, hingga kebingungan. Reaksi tersebut muncul karena rasa tidak aman yang dirasakan korban.

“Dari sudut pandang psikososial Erikson, rasa tidak aman menyebabkan seseorang merasa cemas dikarenakan dunia tidak dapat diprediksi,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika rasa cemas berlangsung dalam jangka waktu lama, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi trauma.

Pada anak-anak, trauma kerap ditandai dengan mimpi buruk, tantrum, menangis berlebihan, menjadi sangat bergantung pada orang dewasa, lebih clingy (manja dan bergantung) pada orang dewasa di sekitarnya, lebih rewel, atau justru menjadi sangat pendiam.

Bahkan gejala lainnya yang sering muncul adalah regresi, seperti mengompol kembali padahal sebelumnya sudah tidak.

Katherina menekankan pentingnya intervensi psikologis sejak dini bagi korban dan penyintas bencana guna mencegah gangguan mental yang lebih serius di kemudian hari. Ia merujuk pada sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa penyintas bencana berisiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), serta masalah perilaku lainnya.

Selain pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal yang layak, ia menilai dukungan psikososial menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah Psychological First Aid (PFA).

“Ini merupakan salah satu pendekatan yang dapat dilakukan oleh siapapun seperti oleh relawan, guru, tenaga kesehatan, atau tokoh di lingkungan sekitar,” katanya lagi.

Menurut Katherina, PFA bukanlah terapi, melainkan dukungan psikologis awal yang bertujuan untuk menenangkan, memberikan dukungan emosi, serta membantu penyintas agar mampu bertahan dan bangkit kembali dari permasalahan yang dialami (resiliensi).

Ia menegaskan, pemulihan pasca bencana tidak boleh hanya berfokus pada bantuan finansial dan kebutuhan dasar semata. Pemulihan psikologis, khususnya bagi anak-anak harus menjadi perhatian utama.

“Sehingga dukungan psikososial dapat menjadi penanganan secara cepat dan tepat supaya mereka kembali mendapatkan rasa aman mereka,” ucapnya lagi. (hm20)