Friday, October 9, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Wali Kota Saint-Denis Pasang Badan Lindungi Pelajar saat Demo di Prancis

Mistar.idKamis, 8 Oktober 2026 pukul 23.55 WIB
wali_kota_saintdenis_pasang_badan_lindungi_pelajar_saat_demo_di_prancis

Wali Kota Saint-Denis di Prancis, Bally Bagayoko. (Foto: Getty Images/Mistar)

news_banner

Prancis, MISTAR.ID - Wali Kota Saint-Denis, Prancis, Bally Bagayoko menjadi sorotan setelah aksinya saat menghadapi demonstrasi pelajar di Paris. Ia terlihat berdiri di depan para pelajar yang berunjuk rasa dan meminta polisi antihuru-hara menghentikan tindakan mereka.

Bagayoko bahkan sempat berteriak meminta polisi berhenti ketika sejumlah petugas terlihat membawa tameng dan bergerak ke arah massa demonstran.

Aksi tersebut berlangsung, Selasa (6/10/2026). Bagayoko diketahui memberikan dukungan terhadap aksi para pelajar di kawasan pinggiran Paris yang mayoritas dihuni masyarakat kelas pekerja.

Dalam keterangannya, Bagayoko mengatakan dirinya meminta polisi tidak melakukan penyerbuan terhadap para pelajar. Menurutnya, sebagian besar demonstran tidak menunjukkan sikap agresif kepada petugas.

"Mereka memutuskan untuk menyerbu dan mengejar para pelajar, padahal banyak di antara mereka sama sekali tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap polisi," kata Bagayoko, seperti dikutip Reuters.

Bagayoko merupakan politikus dari partai sayap kiri radikal France Unbowed (LFI). Saat kejadian, polisi akhirnya melepaskan gas air mata ke arah kelompok demonstran. Gas tersebut juga mengenai sang wali kota.

Gelombang demonstrasi pelajar di Prancis telah berlangsung selama lebih dari dua pekan. Aksi yang pertama kali mencuat dari kawasan pinggiran Paris tersebut kemudian berkembang menjadi protes yang menyoroti berbagai persoalan sosial dan pendidikan.

Lebih dari 6.000 orang dilaporkan telah ditangkap sejak demonstrasi dimulai, sementara puluhan pelajar mengalami luka-luka.

Kelompok hak asasi manusia dan serikat pekerja menuding aparat menggunakan tindakan keras terhadap demonstran yang masih di bawah umur. Mereka menyoroti penggunaan tongkat pemukul, gas air mata, hingga senjata flashball yang menggunakan proyektil karet.

Sementara itu, pemerintah menyatakan aparat kepolisian juga menjadi korban dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Ratusan polisi dilaporkan terluka. Selain itu, sejumlah sekolah mengalami pembakaran dan penjarahan, sementara guru serta warga sipil turut menjadi korban.

Saint-Denis menjadi salah satu lokasi awal demonstrasi pelajar yang berlangsung sejak akhir September. Kota tersebut memiliki tingkat kemiskinan lebih dari dua kali rata-rata nasional.

Aksi para pelajar dipicu sejumlah persoalan di sektor pendidikan, mulai dari ruang kelas yang terlalu padat dan tidak layak, kekurangan tenaga pengajar, hingga ketimpangan akses terhadap kesempatan pendidikan.

"Protes bukanlah hal baru di sini. Hal itu terjadi setiap awal tahun ajaran. Janji Republik mengenai kesetaraan, khususnya bagi masyarakat kelas pekerja dan wilayah pedesaan, tidak dipenuhi," ujar Bagayoko.

Ia menilai pemerintah Prancis perlu meningkatkan investasi di bidang pendidikan serta menaikkan pajak bagi kelompok miliarder.

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu sebelumnya mengatakan pemerintah akan mengkaji tuntutan para pelajar dan menyampaikan sejumlah usulan pada akhir Oktober. Namun, hingga kini belum ada rincian mengenai langkah yang akan diambil pemerintah.

Pemerintah Prancis juga sempat menuding politikus LFI berada di balik aksi demonstrasi tersebut. Bagayoko membantah tudingan itu dan menilai anggapan tersebut justru merendahkan para pelajar yang turun ke jalan.

Sebagai ayah dari empat anak, Bagayoko mengatakan dirinya merasa memiliki tanggung jawab untuk mendampingi para pelajar yang melakukan aksi. "Para siswa SMA yang turun ke jalan itu bisa saja merupakan anak-anak saya sendiri. Sudah menjadi tanggung jawab saya untuk mendampingi mereka," katanya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN