Thursday, October 22, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Ada Bekas Sengatan Listrik, Taser Buatan AS Diduga Digunakan untuk Siksa Tahanan Palestina

Mistar.idJumat, 23 Oktober 2026 pukul 06.00 WIB
ada_bekas_sengatan_listrik_taser_buatan_as_diduga_digunakan_untuk_siksa_tahanan_palestina

Pasukan Israel menahan 53 warga Palestina di Yerusalem Timur sepanjang September. (foto: Issam Rimawi/Anadolu/Getty Images via The Guardian)

Yerusalem, MISTAR.ID - Lebih dari satu setengah tahun setelah mengalami dugaan penyiksaan di dalam tahanan Israel, bekas luka di tubuh Essa (nama samaran) belum juga hilang. Pria Palestina berusia 43 tahun itu kehilangan kedua kakinya akibat serangan rudal Israel, tetapi penderitaannya belum berakhir setelah ia ditangkap.

Essa mengaku diseret ke sebuah bagian Penjara Ofer yang dikenal sebagai *Hell’s Wing*, julukan yang merujuk pada reputasinya sebagai tempat terjadinya tindakan brutal. Menurut kesaksian Essa, tentara Israel mendorongnya dengan kasar ke sudut ruangan, menembakkan dua peluru karet ke tubuhnya, lalu mengikatnya erat.

Seorang tentara kemudian mengeluarkan senjata kejut listrik dan menempelkannya ke tubuh Essa hingga ia merasakan sengatan listrik.

Kisah tersebut diungkap dalam investigasi Mustafa Abdel Raouf bersama *The Guardian* dan Arab Reporters for Investigative Journalism yang diterbitkan Kamis (22/10/2026). Laporan itu menyebut senjata yang diduga digunakan terhadap Essa kemungkinan merupakan Taser buatan Axon Enterprise, perusahaan asal Amerika Serikat yang sebelumnya dikenal sebagai Taser International.

International Rehabilitation Council for Torture Victims menilai, dua bekas luka yang berdekatan di tubuh Essa mengindikasikan kemungkinan sengatan listrik berulang ketika ia berada dalam kondisi terikat erat.

Essa ditangkap di kamp pengungsi Jabalia pada Januari 2024, setelah kehilangan kedua kakinya akibat serangan rudal Israel terhadap rumahnya. Ia dibebaskan pada Oktober 2025, tetapi bekas luka yang masih terlihat menjadi bagian dari kesaksiannya mengenai dugaan penyiksaan selama penahanan.

Kesaksian Empat Mantan Tahanan

Essa bukan satu-satunya mantan tahanan yang menyampaikan kesaksian serupa. Tiga warga Palestina lainnya yang diwawancarai dalam investigasi tersebut mengaku mengalami penyiksaan menggunakan senjata yang mereka identifikasi sebagai Taser selama berada dalam tahanan Israel pada 2024–2025.

Salah seorang mantan tahanan Israel lainnya mengatakan tubuhnya disiram air sebelum disetrum. Ia mengaku masih mengalami gangguan penglihatan berat, kejang otot, dan pingsan berulang.

Laporan itu juga menyoroti dua rekaman video yang diproduksi Dinas Penjara Israel dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Senjata yang terlihat dalam rekaman tersebut tampak menyerupai Taser buatan Axon.

Pada Agustus 2025, Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Palestina turut melaporkan dugaan penyiksaan menggunakan sengatan listrik di Penjara Gilboa. Para tahanan disebut diseret ke kamar mandi di halaman penjara, disiram air, kemudian kembali disetrum. Namun, komisi tersebut tidak menyebutkan model senjata yang digunakan.

Axon Diduga Masih Pasok Senjata ke Israel

Di tengah berbagai tuduhan tersebut, Axon diduga masih menjalin kontrak dengan sejumlah entitas Israel untuk memasok senjata Taser atau aksesori pendukungnya.

Menurut investigasi tersebut, pada Juni 2025 perusahaan itu masih memamerkan model terbaru senjata kejut listriknya kepada lembaga keamanan Israel dalam sebuah konferensi di negara tersebut.

Temuan ini memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan hubungan bisnis Axon dengan pihak Israel di tengah laporan dugaan penyiksaan terhadap tahanan Palestina. Namun, keberadaan kontrak dan kegiatan promosi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa perusahaan mengetahui atau menyetujui penyalahgunaan produknya.

Axon diduga masih melanjutkan penandatanganan kontrak dengan sejumlah pihak Israel untuk memasok senjata Taser atau aksesori pendukungnya. (foto: Jacquelyn Martin/AP via The Guardian)

Sementara itu, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa penyalahgunaan tahanan dilarang keras. Ia mengatakan penggunaan alat pengekang hanya dilakukan dalam keadaan luar biasa yang membenarkannya dan harus sesuai dengan hukum Israel, hukum internasional, serta perintah militer.

Investigasi tersebut juga menyinggung kasus di pusat penahanan Sde Teiman pada Juli 2024. Menurut laporan tersebut, penyelidikan militer terhadap lima tentara yang dituduh melakukan kekerasan seksual terhadap seorang tahanan Palestina menemukan bahwa senjata Taser digunakan dalam penyiksaan tersebut. Korban dilaporkan membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Peringatan PBB dan Kelompok HAM

Pada November 2025, Komite PBB Menentang Penyiksaan menyampaikan keprihatinan atas laporan penyiksaan dan perlakuan buruk terhadap tahanan di fasilitas penahanan Israel. Komite itu menyebut dugaan tersebut meningkat tajam sejak 7 Oktober 2023, termasuk laporan kekerasan seksual dan penggunaan sengatan listrik.

Amnesty International juga telah memperingatkan risiko pelanggaran hak asasi manusia yang berkaitan dengan senjata kejut listrik. Organisasi tersebut sebelumnya mendesak agar peralatan penegakan hukum semacam itu dimasukkan dalam Perjanjian Perdagangan Senjata PBB (Arms Trade Treaty).

Amani Al-Sarhanah dari Palestinian Prisoners’ Club mengatakan sengatan listrik mungkin hanya satu dari berbagai metode yang diduga digunakan terhadap tahanan Palestina.

“Kami sebenarnya tidak mengetahui jenis senjata apa yang digunakan atau perusahaan mana yang memasoknya. Namun, kami tentu mengetahui bahwa sebagian besar senjata yang diimpor Israel berasal dari Amerika Serikat, dengan satu atau lain cara,” ujarnya, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.

Persoalan perlakuan terhadap tahanan Palestina juga tercermin dalam laporan sejumlah organisasi nonpemerintah Israel yang menyebut 92 warga Palestina meninggal ketika berada dalam tahanan sejak Oktober 2023. Dalam periode yang sama, hanya satu tentara Israel dilaporkan telah menjalani persidangan atas dugaan penganiayaan terhadap tahanan Palestina dari Gaza. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN