Teluk Makin Membara! Iran Klaim Serang Tujuh Kapal Tanker di Selat Hormuz

Sepasang warga Iran melintas mengendarai mobil melintasi poster Ayatollah Mojtaba Khamenei. (foto: Vahid Salemi/AP)
Teheran, MISTAR.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengklaim tujuh kapal tanker minyak terbakar atau mengalami kerusakan di Selat Hormuz dalam semalam. Kapal-kapal tersebut disebut terkena serangan Iran atau menabrak ranjau laut.
Menurut laporan Associated Press (AP), Kamis (22/10/2026), klaim serangan tersebut disampaikan televisi pemerintah Iran yang mengutip Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Angkatan Laut IRGC kembali mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di kawasan apabila Washington terus membantu mengarahkan kapal-kapal komersial melewati Selat Hormuz. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa dalam pemberitaan tersebut.
Iran masih mengklaim kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu faktor utama dalam perundingan dengan Washington. Jalur pelayaran ini sangat penting bagi distribusi minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu kenaikan harga energi global.
Kekhawatiran akan meluasnya konflik turut dipengaruhi dinamika politik di Israel dan Amerika Serikat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi pemilihan umum pada 27 Oktober, sementara AS bersiap menghadapi pemilihan paruh waktu pada November.
Danny Citrinowicz, peneliti di Institute for National Security Studies Israel sekaligus mantan spesialis Iran di militer dan intelijen Israel, menilai Netanyahu berkeinginan melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Menurut Citrinowicz, Israel berisiko kembali terlibat dalam konfrontasi militer tanpa terlebih dahulu memperbarui strategi menghadapi Teheran. Ia juga memperkirakan kemenangan Netanyahu dalam pemilu dapat meningkatkan kemungkinan serangan baru.
Meski kandidat oposisi diperkirakan lebih memprioritaskan persoalan domestik, Citrinowicz menilai kawasan tersebut sedang bergerak menuju eskalasi militer berikutnya.
Data United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), pemantau keamanan maritim Inggris, menunjukkan bahwa Oktober mencatat jumlah serangan terhadap kapal komersial tertinggi sejak Maret, ketika perang memasuki pekan-pekan awalnya. UKMTO belum melaporkan insiden terbaru tersebut, tetapi mencatat adanya keengganan sebagian operator kapal untuk melaporkan kejadian yang mereka alami.
Para pakar menyebut negara-negara produsen minyak masih menemukan cara untuk mempertahankan aliran pasokan minyak mentah. Namun, upaya tersebut membutuhkan biaya yang semakin besar.
Iran Buka Peluang Diplomasi, tetapi Siap Melawan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu mengatakan Teheran masih membuka peluang diplomasi, meskipun tetap bersiap mempertahankan diri.
Iran juga menyatakan telah memperoleh pelajaran militer penting dari perang yang dimulai melalui serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Dalam beberapa hari terakhir, Teheran mengisyaratkan kemungkinan memperluas sasaran serangan, termasuk terhadap infrastruktur strategis seperti kabel bawah laut dan pusat data.
Sementara itu, AS menambah kekuatan militernya di kawasan dengan mengerahkan kapal induk ketiga beserta ribuan personel militer. Penambahan tersebut memperkuat pengerahan kapal perang dan pesawat tempur AS di Timur Tengah, yang disebut sebagai salah satu konsentrasi kekuatan militer Amerika terbesar di kawasan itu dalam beberapa dekade terakhir.
Di tengah peningkatan kekuatan militer tersebut, para mediator terus berupaya mempertemukan kembali Washington dan Teheran dalam perundingan resmi.
Iran masih menawarkan proposal yang diklaim dapat mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya dalam waktu satu pekan, dengan sejumlah persyaratan. Salah satunya adalah penghentian blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Persyaratan tersebut sama dengan MoU sebelumnya yang gagal hanya beberapa hari setelah ditandatangani kedua pihak pada Juni. Pada akhir September, Presiden AS Donald Trump menolak proposal tujuh hari itu. Meski demikian, kedua pihak mengakui bahwa komunikasi tidak langsung masih berlangsung. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Ada Bekas Sengatan Listrik, Taser Buatan AS Diduga Digunakan untuk Siksa Tahanan Palestina









































