Friday, October 23, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Macron Sindir Trump: Komentar Bodoh Soal Demo Prancis Demi Kepentingan Politik

Mistar.idJumat, 23 Oktober 2026 pukul 08.44 WIB
macron_sindir_trump_komentar_bodoh_soal_demo_prancis_demi_kepentingan_politik_

Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: nubinsmart.id)

Paris, MISTAR.ID (23/10/2026) — Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pemimpin negara lain karena melontarkan "komentar bodoh" terkait demonstrasi di Prancis. Menurut Macron, pernyataan tersebut hanya untuk kepentingan politik.

Awalnya Macron tidak menyebut nama secara spesifik. Ia menyatakan "manipulasi informasi" pasca-kerusuhan yang pecah pada Sabtu (17/10/2026) telah memicu komentar yang tidak dapat diterima.

"Ada komentar yang tidak dapat diterima sekaligus bodoh dari banyak pihak, termasuk para pemimpin asing," ujar Macron.

Saat ditanya apakah yang dimaksud adalah Donald Trump, Macron menjawab singkat, "Termasuk dia."

Sebelumnya, Trump menyalahkan "migran, jihadis, dan komunis" atas kekerasan yang terjadi di Prancis. Pernyataan itu disampaikan saat Trump tengah berkampanye untuk Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat.

Kepada wartawan, Macron menuding beberapa pemimpin yang tengah menjalani kampanye pemilu, baik di kawasan Eropa maupun di seberang Atlantik, dengan naif menyebarkan narasi yang sengaja dipromosikan kelompok tertentu.

"Memanfaatkan negara kami untuk kepentingan kampanye politik mereka sendiri. Padahal kami tidak membutuhkan hal itu. Kami sudah cukup direpotkan dengan berbagai masalah yang harus dihadapi," ujar Macron seperti dikutip The Guardian.

Selain Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang akan menghadapi pemilu pada 27 Oktober juga sempat menyebut Prancis dilanda "invasi Islam ekstremis". Namun, para analis menepis anggapan bahwa migran menjadi faktor utama di balik aksi protes di Prancis.

Aksi demonstrasi di Prancis yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi kekerasan tak terkendali dan penjarahan besar-besaran, terutama di Paris, Marseille, Lyon, dan Limoges.(CNN/hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN