Sistem Pendingin Diserang Siber: Peretas Bikin 400 Supermarket di Prancis Rugi Puluhan Juta Euro

Visual ini menggambarkan teknisi sedang memantau control panel sistem pendingin dengan lapisan keamanan siber seperti enkripsi data dengan firewall aktif. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Paris, MISTAR.ID (13/10/2026) — Serangan siber melumpuhkan sistem pendingin ratusan supermarket di Prancis, Senin (12/10/2026). Serangan yang berlangsung semalam itu memaksa gerai membuang produk beku dan segar yang rusak.
Peretas mengendalikan sistem pendingin di gerai Cooperative U, Leclerc, Les Mousquetaires, dan Intermarche. Ribuan freezer dan lemari pendingin yang menyimpan produk segar dan beku dicairkan. Dalam sejumlah kasus, lemari yang terisi penuh bahkan dipanaskan hingga 50 derajat Celsius selama lebih dari enam jam.
Lebih dari 400 toko terdampak. Kejaksaan Paris mengonfirmasi insiden tersebut dan menyebut kebakaran dilaporkan terjadi di beberapa lokasi.
Leclerc mengatakan kepada AFP bahwa serangan siber menargetkan salah satu pemasok peralatan pendinginnya sehingga berdampak pada operasional gerai.
Sistem pendingin supermarket umumnya dioperasikan melalui panel kontrol yang mengatur seluruh lemari pendingin dan freezer. Sistem tersebut dapat diakses melalui internet untuk pengaturan jarak jauh.
Sistem yang menjadi sasaran dilaporkan menggunakan perangkat dari pemasok asal Denmark, Danfoss. Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyatakan telah menemukan kerentanan pada perangkat lunak perusahaan tersebut dan telah menghubungi vendor terkait.
Danfoss menyatakan mengetahui adanya insiden di Prancis yang memengaruhi sejumlah sistem manajemen pendingin secara terbatas. Perangkat yang terdampak masih menggunakan perangkat lunak versi lama.
"Kami telah menyarankan pelanggan untuk memperbarui sistem ke perangkat lunak terbaru serta mengganti sistem lama dengan solusi generasi terbaru," kata Danfoss.
Kantor Perdana Menteri Lecornu menugaskan Badan Keamanan Siber Prancis (ANSSI) menyelidiki serangan tersebut. Otoritas Prancis juga berkoordinasi dengan mitra di Eropa karena negara lain berpotensi terdampak.
Masalah serupa dilaporkan di Belgia, Luksemburg, dan Belanda. Jaringan supermarket Belanda Ahold Delhaize menonaktifkan sistem pendinginnya sebagai langkah pencegahan, meski belum menemukan kaitan langsung dengan serangan di Prancis.
Analis senior intelijen ancaman siber Sekoia Threat Detection and Research Felix Aime menyebut Spanyol, Portugal, Polandia, dan Jerman juga terdampak.
Carrefour menyebut 80 gerainya terdampak, sementara Monoprix yang mengoperasikan sekitar 490 toko melaporkan sekitar 5 persen gerainya terdampak.
Hingga kini pelaku belum diketahui dan belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.
Insiden ini terjadi di tengah kekhawatiran kerentanan sistem industri terhadap ransomware dan serangan hibrida Rusia seiring ketegangan perang di Ukraina. Bulan lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan langkah tambahan untuk melindungi infrastruktur vital dari serangan hibrida Rusia.
CEO Cooperative U Dominique Schelcher menulis di X bahwa serangan terhadap peralatan yang berperan penting dalam menjaga kesegaran produk dan pasokan pangan merupakan tindakan sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Belum ada perkiraan resmi total kerugian. Namun, CEO Intermarche Thierry Cotillard mengatakan kepada BFM TV, serangan itu dapat menyebabkan kerugian hingga puluhan juta euro hanya dalam satu hari di seluruh Prancis.
Direktur Jenderal Asosiasi Ritel Eropa EuroCommerce Christel Delberghe menilai insiden tersebut menunjukkan pentingnya ketahanan di seluruh rantai pasok.
Komisaris Uni Eropa untuk Pangan dan Pertanian Christophe Hansen mengecam serangan tersebut.
"Keamanan pangan memerlukan perhatian lebih besar di semua tingkatan. Eksploitasi pangan kini bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kenyataan," tulis Hansen di X. (detikcom/hm02)



















































