Putin Tolak Usulan Hentikan Serangan Jarak Jauh Rusia-Ukraina

Vladimir Putin. (foto: Reuters/Mistar)
Moskow, MISTAR.ID - Presiden Rusia Vladimir Putin menolak usulan untuk menghentikan serangan jarak jauh antara Rusia dan Ukraina. Pernyataan tersebut disampaikan ketika serangan udara Rusia terhadap Ukraina dilaporkan semakin meningkat.
Dilansir AFP, Jumat (2/10/2026), Rusia terus meningkatkan intensitas serangan udaranya. Di sisi lain, Ukraina menuduh Moskow menyasar fasilitas sipil dan membuat sejumlah wilayahnya terus berada dalam kondisi siaga menjelang musim dingin.
Ukraina juga melancarkan serangan balasan ke sejumlah sasaran di Rusia. Target yang dilaporkan mencakup kilang minyak, depot bahan bakar, serta fasilitas yang berkaitan dengan kegiatan ekspor. Serangan tersebut disebut bertujuan menekan sumber pendapatan sektor energi Rusia.
Putin menanggapi gagasan penghentian serangan terhadap sasaran tertentu dengan penolakan. Ia mengatakan Rusia sebelumnya mendapat usulan agar serangan terhadap kilang minyak Rusia dihentikan dengan imbalan penghentian serangan Ukraina terhadap kapal-kapal Rusia.
Ketika ditanya apakah Rusia bersedia menerima gagasan tersebut, Putin menjawab singkat, “Tidak.”
Putin juga mengatakan serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak telah memberikan dampak terhadap perekonomian Rusia. Menurutnya, Rusia kehilangan sekitar satu persen dari produk domestik bruto (PDB) akibat serangan terhadap kilang minyak, yang turut berkontribusi terhadap kelangkaan bahan bakar di sejumlah wilayah pada musim panas lalu.
Sementara itu, serangan Rusia terhadap Ukraina dilaporkan menyasar sejumlah perusahaan baja, jaringan pasokan, fasilitas perkeretaapian, hingga gudang penyimpanan dalam skala besar.
Dampak serangan juga dirasakan sektor ekspor Ukraina. Aktivitas pengiriman komoditas, termasuk biji-bijian melalui Laut Hitam, disebut mengalami gangguan. Sektor tersebut merupakan salah satu sumber pendapatan penting bagi Ukraina.
Pertukaran serangan jarak jauh antara kedua negara terus berlangsung di tengah belum tercapainya kesepakatan untuk menghentikan permusuhan secara lebih luas.















































