29.9 C
New York
Monday, July 15, 2024

Pejabat di Moskow Mengatakan bahwa AS dan Inggris Tak Ingin Damai Rusia-Ukraina Terjadi Lagi

Jakarta, MISTAR.ID

Nikolay Patrushev, kepala Dewan Keamanan Nasional Moskow, mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Inggris tidak akan senang jika Rusia dan Ukraina melakukan perundingan gencatan senjata dan perdamaian.

Patrushev mengatakan bahwa dua negara itu lebih tertarik untuk melanjutkan kekerasan daripada peduli dengan penderitaan manusia. Ini berbeda dengan keinginan banyak orang Rusia dan Ukraina yang tidak ingin perang berlanjut.

“Saya bisa mengidentifikasi negara-negara yang amat tertarik [dalam meneruskan permusuhan]. Mereka adalah AS dan Inggris,” kata Patrushev seperti dilansir dari Russia Today.

“Harus disadari bahwa mereka memang tidak peduli dengan orang-orang yang sekarat karena bukan warga mereka. Mereka tidak memulai perang di tanah mereka sendiri,” ucapnya lagi.

Ia mengingatkan jurnalis bahwa pada pekan pertama konflik, Moskow dan Kyiv telah mencapai kesepakatan lebih lanjut dalam perundingan damai. Namun, Patrushev menyatakan bahwa Ukraina menarik diri dari perundingan karena tekanan AS.

Baca juga : Rusia dan Ukraina Saling Tuding Siapa Meledakkan Bendungan Raksasa

Patrushev mengacu pada negosiasi yang dilakukan di Istanbul, Turki, antara Rusia dan Ukraina. Saat itu, perwakilan Ukraina berjanji untuk tetap netral sebagai ganti jaminan keamanan Moskow, yang secara sementara disepakati oleh kedua belah pihak.

“Rusia bukan target utama (bagi negara-negara Barat). Target utama mereka adalah China. Mereka [bermaksud] menguasai dunia, tapi itu tak dapat diterima dan tidak akan terjadi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut dibuat oleh Patrushev saat dia berada di Minsk, ibu kota Belarus, untuk menghadiri pertemuan anggota Organisasi Pakta Keamanan Bersama (CSTO).

CSTO adalah blok sekutu Rusia yang terdiri dari negara-negara mantan Uni Soviet.

Sejumlah pejabat Rusia, termasuk Patrushev, melihat pertempuran di Ukraina sebagai bagian dari perang proksi yang dimulai oleh AS dan sekutu-sekutunya. (CNN Indonesia/hm19)

Related Articles

Latest Articles