Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Netanyahu Dikecam Usai Bandingkan Yesus Kristus dengan Genghis Khan, Iran Bereaksi Keras

Mistar.idSabtu, 21 Maret 2026 15.05
journalist-avatar-top
netanyahu_dikecam_usai_bandingkan_yesus_kristus_dengan_genghis_khan_iran_bereaksi_keras

PM Israel Netanyahu(Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menuai kritik tajam setelah pernyataannya yang membandingkan Yesus Kristus dengan Genghis Khan memicu kontroversi global. Ucapan tersebut disampaikan dalam konferensi pers pada Kamis (19/3/2026) dan langsung menjadi perbincangan luas di media sosial.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menyebut bahwa sejarah menunjukkan kebaikan tidak selalu menang atas kekuatan. Ia menyinggung bahwa figur seperti Yesus Kristus tidak memiliki “keunggulan” dibandingkan Genghis Khan dalam konteks kekuasaan dan dominasi, sebuah perbandingan yang dianggap sensitif oleh banyak pihak.

Pernyataan itu memicu gelombang kritik, tidak hanya dari warganet, tetapi juga dari pejabat internasional. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut mengecam pernyataan tersebut. Ia menyebut Netanyahu sebagai sosok yang “tidak tahu berterima kasih,” terutama mengingat dukungan yang selama ini datang dari komunitas Kristen, khususnya di Amerika Serikat.

Melalui unggahan di platform X, Araghchi menyampaikan keheranannya atas pernyataan tersebut. Ia menilai sikap Netanyahu tidak pantas dan berpotensi menyinggung perasaan umat Kristiani di seluruh dunia.

Kontroversi semakin memanas hingga akhirnya Netanyahu memberikan klarifikasi sehari setelahnya, Jumat (20/3). Ia membantah telah menghina Yesus Kristus maupun komunitas Kristen. Menurutnya, pernyataan tersebut hanyalah kutipan dari sejarawan Amerika, Will Durant.

Netanyahu menegaskan bahwa kutipan tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan pandangan historis mengenai hubungan antara moralitas dan kekuatan, bukan untuk merendahkan tokoh agama mana pun. Ia juga menekankan bahwa Israel tetap menjadi negara yang melindungi dan menghormati komunitas Kristen.

Meski telah memberikan klarifikasi, polemik ini masih terus bergulir dan menjadi sorotan publik internasional. Banyak pihak menilai pernyataan tersebut sebagai contoh betapa sensitifnya isu agama dalam konteks politik global.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN