Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Menjelang Tenggat Respons Proposal Damai AS, Ukraina dan Rusia Saling Serang

Mistar.idSelasa, 25 November 2025 pukul 15.01 WIB
menjelang_tenggat_respons_proposal_damai_as_ukraina_dan_rusia_saling_serang

Ilustrasi. (Foto: Reuters/Nina Liashonok Purchase Licensing Rights)

news_banner

Kyiv, MISTAR.ID

Ukraina dan Rusia kembali terlibat dalam serangan balasan pada Selasa (25/11/2025) waktu setempat, hanya dua hari sebelum batas waktu yang ditetapkan Amerika Serikat bagi Kyiv untuk menanggapi usulan kesepakatan damai.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberi tenggat hingga 27 November, bertepatan dengan Hari Thanksgiving di Amerika.

Di tengah tekanan diplomatik tersebut, pertempuran di garis depan meningkat. Pejabat Rusia di wilayah perbatasan melaporkan serangan Ukraina yang menewaskan sedikitnya tiga orang pada Selasa dini hari.

“Serangan musuh malam ini membawa duka yang mendalam,” kata Penjabat Gubernur Rostov, Yuri Sliusar. Di Taganrog, salah satu korban tewas tercatat, sementara Wali Kota Svetlana Kambulova menyatakan pihaknya sedang menyiapkan langkah respons.

Gubernur Krasnodar, Veniamin Kondratyev, menyebut serangan tersebut sebagai salah satu yang paling masif dan berkelanjutan sejak invasi dimulai.

Di sisi lain, ibu kota Ukraina, Kyiv, juga digempur rudal dan drone yang menargetkan infrastruktur energi. Sedikitnya satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka.

Ledakan terdengar di berbagai wilayah kota, memicu sirene peringatan dan warga mencari perlindungan. Presiden Volodymyr Zelensky kembali menegaskan bahwa Rusia tidak akan mengurangi tekanannya terhadap Ukraina dan menyebut situasi saat ini sebagai momen kritis.

Zelensky sebelumnya memperingatkan Ukraina berisiko kehilangan martabat nasional dan dukungan Washington jika tidak mampu mempertahankan posisi tawar.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Moskow siap merebut wilayah tambahan jika Ukraina menarik diri dari pembicaraan. Militer Rusia saat ini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, terutama di timur dan selatan.

Di tengah eskalasi, para negosiator dari AS, Ukraina, dan negara-negara Eropa menggelar pertemuan darurat di Jenewa akhir pekan lalu. Pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan bersama AS-Ukraina mengenai kerangka kerja baru untuk menghentikan perang. Gedung Putih menyebut kerangka tersebut sebagai kemajuan, meski isi lengkap draf belum diumumkan.

Delegasi Ukraina menyambut positif kerangka yang diklaim menjunjung kedaulatan Ukraina serta mengakomodasi tuntutan Kyiv, namun masih membutuhkan diskusi lanjutan dengan negara pendukung di Eropa. Para pemimpin koalisi pendukung Ukraina dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Selasa malam.

Namun, Kanselir Jerman Friedrich Merz meragukan kesepakatan dapat tercapai sebelum tenggat waktu. Sejumlah pemerintah Uni Eropa juga menyatakan keberatan bahwa usulan awal AS yang terdiri dari 28 poin dianggap terlalu menguntungkan Rusia.

Di antara poin yang menuai kritik adalah kewajiban Ukraina menyerahkan Donetsk dan Lugansk serta memangkas kekuatan militernya. Kyiv menyebut poin tersebut tidak dapat diterima.

Menanggapi kritik tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membantah keras bahwa AS memihak Rusia. Ia menyatakan AS melibatkan kedua pihak secara seimbang.

Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada AFP bahwa Washington mendorong Kyiv untuk menerima proposal tersebut. Meski bantuan tidak secara langsung diancam akan dihentikan, pejabat itu menegaskan Kyiv memahami potensi konsekuensinya.

“Semua pihak mendukung diakhirinya perang jika ada peluang nyata untuk mewujudkannya,” ujarnya. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN