Friday, October 9, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Kisah Christa Pike, Napi AS yang Selamat dari Dua Suntikan Mematikan

Mistar.idJumat, 9 Oktober 2026 pukul 15.31 WIB
kisah_christa_pike_napi_as_yang_selamat_dari_dua_suntikan_mematikan

Christa Pike (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Tennessee, MISTAR.ID – Christa Pike, narapidana perempuan yang dijatuhi hukuman mati di negara bagian Tennessee, Amerika Serikat (AS), menjadi sorotan setelah dilaporkan tetap hidup meski telah menerima dua kali suntikan mematikan. Peristiwa tersebut disebut terjadi pada 30 September 2026 dan kini memicu penyelidikan terhadap pelaksanaan eksekusi.

Pike merupakan terpidana kasus pembunuhan Colleen Slemmer, teman sekelasnya yang berusia 19 tahun. Pembunuhan itu terjadi pada 1995 di Knoxville, Tennessee, ketika Pike masih berusia 18 tahun.

Mengutip laporan CNN Indonesia, Pike dinyatakan bersalah atas pembunuhan tersebut dan dijatuhi hukuman mati pada 1996. Pacarnya saat itu, Tadaryl Shipp, juga terlibat dalam kasus tersebut dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Kronologi Eksekusi Christa Pike yang Dilaporkan Gagal

Pada malam 30 September, petugas dilaporkan menyuntikkan pentobarbital ke tubuh Pike sebagai bagian dari prosedur eksekusi mati. Pelaksanaan hukuman tersebut sebelumnya sempat tertunda akibat proses banding di pengadilan federal.

Namun, setelah suntikan pertama diberikan, Pike dilaporkan masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Petugas kemudian memberikan dosis kedua sesuai prosedur, tetapi Pike kembali dilaporkan tidak meninggal.

Menurut keterangan pengacaranya, Pike terdengar menangis, merintih, dan bernapas dengan keras. Sejumlah wartawan yang hadir di lokasi juga dilaporkan mendengar suara napas serta dengkurannya.

Setelah dipastikan masih hidup, Pike dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Penyebab pasti kegagalan eksekusi tersebut belum diketahui dan masih dalam penyelidikan.

Kondisi Medis Pike Jadi Perhatian

Sebelum pelaksanaan eksekusi, tim kuasa hukum Pike dilaporkan telah meminta agar hukuman mati kliennya diganti menjadi penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat. Permintaan itu berkaitan dengan kondisi medis yang dialaminya.

Pike diketahui mengidap trombositosis, yaitu kondisi ketika jumlah trombosit dalam darah meningkat melebihi batas normal. Pada kondisi tertentu, gangguan tersebut dapat meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah.

Tim pengacaranya sebelumnya memperingatkan bahwa pembentukan gumpalan darah di lokasi penyuntikan berpotensi menghambat masuknya obat ke dalam pembuluh darah. Meski demikian, belum ada konfirmasi bahwa kondisi tersebut menjadi penyebab langsung kegagalan eksekusi.

Setelah kejadian, lengan Pike dilaporkan membengkak dan kulitnya mengalami lepuh menyerupai luka bakar. Kondisi kesehatannya secara keseluruhan setelah menjalani perawatan belum diketahui secara pasti.

Pike Dilaporkan Mulai Bisa Berjalan

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Pike telah sadar setelah dirawat di rumah sakit. Ia juga dilaporkan terbangun dalam kondisi marah dan kebingungan.

Pada 6 Oktober 2026, Pike disebut sudah dapat berjalan dengan bantuan di sekitar kamarnya. Namun, belum ada informasi lengkap mengenai kemungkinan dampak kesehatan jangka panjang akibat kejadian tersebut.

Informasi mengenai perkembangan kondisi Pike masih terbatas. Karena itu, diperlukan keterangan medis resmi untuk memastikan tingkat pemulihan dan kemungkinan komplikasi yang dialaminya.

Otoritas Tennessee Selidiki Kegagalan Eksekusi

Insiden tersebut mendorong penyelidikan untuk mengetahui penyebab Pike tetap hidup setelah dua kali menerima suntikan mematikan.

Selain penyelidikan terhadap prosedur eksekusi, peristiwa ini juga diikuti pengunduran diri Frank Strada dari jabatan Komisaris Departemen Pemasyarakatan Tennessee, berdasarkan laporan yang dikutip dalam materi berita.

Kasus Pike kembali menyoroti prosedur pelaksanaan hukuman mati melalui suntikan mematikan di Amerika Serikat, khususnya terkait pelaksanaan protokol medis dan pengawasan selama proses eksekusi.

Meski demikian, penyebab kegagalan eksekusi dalam kasus Pike belum dapat dipastikan sebelum hasil penyelidikan dan keterangan resmi dari pihak berwenang diumumkan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN