Friday, October 9, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Korsel Tarik Dubes dari Ukraina, Perselisihan soal Tahanan Korut Memanas

Mistar.idJumat, 9 Oktober 2026 pukul 14.58 WIB
korsel_tarik_dubes_dari_ukraina_perselisihan_soal_tahanan_korut_memanas_

Korea Selatan. (foto:istimewa/mistar)

news_banner

Seoul, MISTAR.ID - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) memutuskan menarik Duta Besarnya dari Ukraina di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik terkait rencana pemindahan dua tawanan perang asal Korea Utara (Korut) ke Seoul.

Perselisihan kedua negara mencuat setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan pada bulan lalu mengenai rencana pemindahan para tawanan tersebut. Pengungkapan itu menuai keberatan dari Seoul karena dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan keluarga para tawanan yang masih berada di Korut.

Kementerian Luar Negeri Korsel mengonfirmasi keputusan tersebut dalam pernyataan yang dirilis, Jumat (9/10/2026). Pemerintah Seoul berharap persoalan yang belum terselesaikan dapat ditangani secara damai melalui komunikasi lebih lanjut dengan Kyiv.

Keputusan penarikan dubes itu muncul beberapa hari setelah laporan media menyoroti pengiriman lebih dari 176.000 ton bahan bakar dari Korsel ke Rusia selama Juli dan Agustus. Sebagian besar pasokan tersebut dilaporkan berupa solar. Pengiriman itu kemudian memunculkan dugaan bahwa Korsel turut membantu Rusia mengatasi kekurangan bahan bakar.

Menanggapi keputusan Seoul, pemerintah Ukraina meminta agar hubungan diplomatik kedua negara tetap mengedepankan dialog. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Georgiy Tykhy, mengatakan Kyiv masih bersedia membuka kembali komunikasi yang konstruktif meskipun prosesnya mungkin membutuhkan waktu.

Sebelum menarik dubesnya, Korsel telah memanggil Duta Besar Ukraina untuk menyampaikan keberatan. Seoul juga memperingatkan kemungkinan adanya tindakan lanjutan, meski tidak merinci langkah yang akan diambil.

Presiden Korsel Lee Jae Myung sebelumnya meminta Kyiv menyampaikan permintaan maaf secara resmi atas terungkapnya informasi mengenai tawanan perang Korut. Namun, Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga menilai persoalan tersebut sebagai kesalahpahaman diplomatik.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Korea Utara diketahui mengirimkan personel militernya untuk membantu Moskow dalam perang. Sebagai imbalannya, Pyongyang disebut memperoleh keuntungan ekonomi dan dukungan dalam pengembangan teknologi militer.

Badan intelijen Korsel sebelumnya memperkirakan sekitar 2.000 tentara Korut tewas dalam konflik tersebut. Sementara itu, penilaian yang lebih baru menyebut jumlah personel militer Korut yang tewas maupun terluka telah mencapai sekitar 6.000 orang.

Ketegangan antara Seoul dan Kyiv berpotensi memengaruhi peluang Ukraina memperoleh bantuan persenjataan dari Korsel. Hingga kini, pemerintah Seoul belum mengirimkan senjata mematikan secara langsung ke Ukraina dengan alasan adanya pembatasan kebijakan domestik terhadap bantuan militer untuk negara yang sedang berperang.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN