Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Internet Dipadamkan, Protes Iran Meledak Global: Diaspora Bergerak, Dunia Terdesak Bertindak

Mistar.idRabu, 28 Januari 2026 pukul 11.07 WIB
internet_dipadamkan_protes_iran_meledak_global_diaspora_bergerak_dunia_terdesak_bertindak

Anggota diaspora Iran di PerthPerth, Australia mengadakan rapat umum solidaritas pada 10 Januari 2026 melawan Republik Islam. (foto:wikipedia/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Pemadaman internet berkepanjangan di Iran tidak menghentikan gelombang protes 2025–2026. Sebaliknya, langkah represif itu justru memicu ledakan perlawanan global. Ketika komunikasi di dalam negeri dibungkam, diaspora Iran mengambil alih peran sebagai suara utama rakyat, menggelar demonstrasi solidaritas di puluhan negara dan menjadikan krisis Iran sebagai isu internasional yang tak terelakkan.

Aksi-aksi besar tercatat di Amerika Utara, Eropa, Asia, hingga Oseania. Jerman menjadi pusat mobilisasi terbesar dengan 27 unjuk rasa hanya dalam 10 hari, disusul Amerika Serikat dan Australia (masing-masing 23 aksi), Kanada (19), dan Inggris (12). Di Toronto, sebuah aksi dilaporkan dihadiri sekitar 110.000 orang, menjadikannya salah satu protes diaspora Iran terbesar sepanjang sejarah.

Internet Blackout: Tirai Gelap Represi

Bagi para demonstran, pemadaman internet bukan sekadar pembatasan teknis, melainkan senjata politik. Aktivis HAM menilai kebijakan ini digunakan untuk:

- Memutus koordinasi protes di dalam negeri

- Menghalangi penyebaran bukti kekerasan aparat

- Menutupi jumlah korban tewas dan luka

Peraih Nobel Perdamaian Shirin Ebadi memperingatkan bahwa rezim Iran berpotensi melakukan pembantaian di balik gelapnya komunikasi, dan mendesak negara-negara Barat untuk bersuara sebelum represi semakin brutal.

Simbol Lama, Pesan Baru

Di banyak kota dunia, demonstran mengganti bendera Republik Islam dengan bendera Singa dan Matahari, simbol Iran pra-1979. Tindakan ini menegaskan penolakan terhadap sistem teokrasi yang berkuasa selama lebih dari empat dekade.

Slogan yang bergema mencerminkan keragaman tuntutan: pembebasan tahanan politik, penolakan terhadap diktatorisme—baik agama maupun monarki—hingga seruan langsung terhadap pemimpin tertinggi Iran. Meski berbeda nada, semua menyatu dalam satu pesan: krisis legitimasi rezim semakin dalam.

Reza Pahlavi dan Figur Oposisi

Nama Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, kerap muncul dalam aksi-aksi diaspora. Ia menyatakan dukungan terbuka terhadap protes dan menyerukan aparat keamanan agar berpihak pada rakyat. Namun, di lapangan juga terlihat penolakan terhadap kembalinya monarki, menandakan bahwa gerakan ini bukan monolit, melainkan koalisi luas dengan tujuan utama menggulingkan sistem yang ada.

Tokoh oposisi lain seperti Maryam Rajavi (MEK) menyebut protes telah “menanamkan ketakutan pada rezim yang melemah,” sementara pakar HAM Gissou Nia menilai tuntutan ekonomi kini telah berkembang menjadi keinginan perubahan rezim secara menyeluruh.

Tekanan Personal dan Global

Di Amerika Serikat, diaspora Iran mulai menargetkan keluarga pejabat senior rezim yang tinggal di luar negeri. Kasus paling menonjol terjadi di Atlanta, ketika protes terhadap Fatemeh Ardeshir-Larijani, putri tokoh senior Iran Ali Larijani, berujung pada pemecatannya dari tempat kerja.

Langkah ini menandai pergeseran strategi: dari simbolisme menuju tekanan reputasional dan politik langsung.

Kekerasan Terhadap Diaspora: Represi Lintas Negara

Gelombang solidaritas global dibalas dengan ancaman dan kekerasan. Insiden serius dilaporkan di:

- Los Angeles, ketika sebuah truk menabrak massa demonstran

- London, dengan bentrokan yang melukai demonstran dan polisi

- Hamburg, di mana dua pengunjuk rasa ditikam

Media internasional melaporkan dugaan keterlibatan jaringan intelijen Iran dalam intimidasi terhadap pembangkang di luar negeri, memperkuat kekhawatiran bahwa represi Iran kini bersifat transnasional.

Ketika Iran Dibungkam, Dunia Menjadi Megafon

Pemadaman internet yang dimaksudkan untuk meredam perlawanan justru menciptakan efek sebaliknya. Dengan terputusnya suara dari dalam negeri, diaspora Iran menjadikan kota-kota dunia sebagai megafon perlawanan, memaksa komunitas internasional untuk memperhatikan dan mengambil sikap.

Protes Iran 2025–2026 kini bukan lagi isu domestik. Ia telah berubah menjadi krisis global tentang hak asasi manusia, akuntabilitas, dan batas kekuasaan negara di era digital—sebuah ujian bagi dunia: diam, atau bertindak.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN