Gelombang PHK Besar di Netflix, Wakil Presiden Netflix Doug Belgrad Ikut Didepak

Wakil Presiden Divisi Film Netflix Doug Belgrad.(Foto: Reuter/deadline/Getty Images)
Jakarta, MISTAR.ID (15/10/2026) — Wakil Presiden Divisi Film Netflix, Doug Belgrad, menjadi salah satu eksekutif yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah restrukturisasi raksasa layanan streaming tersebut. Kebijakan ini berdampak pada sekitar 1.000 karyawan.
Laman Variety pada Rabu (14/10/2026) waktu setempat melaporkan bahwa Belgrad hengkang dari Netflix sebagai bagian dari pengurangan tenaga kerja terbesar perusahaan itu sejak 2022.
Belgrad bergabung dengan Netflix pada 2024 dan menjadi salah satu rekrutan awal Dan Lin setelah menjabat sebagai pimpinan divisi film perusahaan tersebut, menggantikan Scott Stuber.
Selama bekerja di Netflix, Belgrad berperan dalam pengelolaan jajaran film orisinal perusahaan. Ia juga terlibat dalam peluncuran film thriller kriminal "Animals" yang disutradarai Ben Affleck.
Sebelum bergabung dengan Netflix, Belgrad menghabiskan lebih dari dua dekade berkarier di Sony Pictures. Ia menjabat sebagai Presiden Produksi Sony Pictures pada 2003, kemudian menjadi Presiden Columbia Pictures pada 2011, sebelum diangkat sebagai Presiden Sony Pictures Entertainment Motion Picture Group pada 2013.
PHK tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi Netflix yang mencakup sekitar enam persen dari total tenaga kerjanya. Sebagian besar pemangkasan menyasar divisi produk, teknologi, hukum, dan sumber daya manusia.
Dalam surat kepada karyawan, Co-CEO Netflix Ted Sarandos dan Greg Peters mengatakan perusahaan melakukan perubahan organisasi untuk mengatur prioritas sumber daya dan mendukung pertumbuhan bisnis.
Keduanya juga menyatakan Netflix tetap berencana berinvestasi pada bidang-bidang yang dinilai dapat meningkatkan layanan, mendorong pertumbuhan, dan memperkuat inovasi.
Netflix sebelumnya melakukan PHK terhadap sekitar 450 karyawan pada 2022 setelah perusahaan melaporkan penurunan jumlah pelanggan pada kuartal pertama tahun tersebut.
Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu terus menghadapi perubahan persaingan industri hiburan, termasuk perkembangan platform digital dan kebutuhan untuk memperluas sumber pendapatan di luar langganan.(Antara/hm02)





















































