Monday, July 20, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Bank Sentral China Tahan Suku Bunga di Tengah Pelemahan Ekonomi

Mistar.idSenin, 22 Desember 2025 pukul 17.02 WIB
bank_sentral_china_tahan_suku_bunga_di_tengah_pelemahan_ekonomi

Ilustrasi Bursa Asia. (foto:reuters/mistar)

news_banner

Beijing, MISTAR.ID

Bank sentral China kembali mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya meskipun sejumlah data ekonomi China menunjukkan pelemahan.

Keputusan ini menandai bulan ketujuh berturut-turut tanpa perubahan kebijakan moneter, di tengah perlambatan ekonomi serta krisis berkepanjangan di sektor properti.

Dikutip dari CNBC, Senin (22/12/2025), People’s Bank of China (PBOC) menahan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun di level 3 persen dan LPR tenor lima tahun di 3,5 persen. Kebijakan ini sejalan dengan perkiraan mayoritas ekonom dalam survei Reuters.

LPR tenor satu tahun menjadi acuan utama bagi kredit baru, sementara LPR tenor lima tahun berperan penting dalam penetapan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Dengan menahan suku bunga, PBOC memberi sinyal sikap kehati-hatian di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

Keputusan tersebut diambil setelah rilis data ekonomi China terbaru pada November yang menunjukkan kinerja lebih lemah dari perkiraan, terutama di sektor konsumsi dan industri.

Konsumsi dan Industri Melambat

Penjualan ritel China pada November hanya tumbuh 1,3 persen secara tahunan. Angka ini jauh di bawah proyeksi pasar sebesar 2,8 persen, sekaligus melambat dibandingkan pertumbuhan 2,9 persen pada Oktober.

Sementara itu, produksi industri hanya meningkat 4,8 persen secara tahunan. Capaian ini lebih rendah dari estimasi kenaikan 5 persen dan menjadi pertumbuhan terlemah sejak Agustus 2024.

Tekanan ekonomi semakin berat akibat krisis sektor properti yang belum mereda. Investasi aset tetap, termasuk properti, tercatat turun 2,6 persen sepanjang Januari–November dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut lebih dalam dari estimasi ekonom sebesar 2,3 persen.

Harga rumah baru juga terus melemah pada November, mencerminkan rendahnya permintaan properti. Data menunjukkan harga rumah baru di kota-kota tier-1 seperti Beijing, Guangzhou, dan Shenzhen turun 1,2 persen secara tahunan. Sementara itu, harga rumah bekas anjlok lebih dalam, yakni 5,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Stimulus Dinilai Masih Diperlukan

Menanggapi jeda kebijakan moneter selama tujuh bulan, Profesor Ekonomi Universitas Cornell, Eswar Prasad, menilai stimulus tetap dibutuhkan. Namun, ia menekankan bahwa kebijakan moneter saja tidak cukup efektif ketika sektor swasta masih melemah.

“Dengan momentum pertumbuhan yang melambat, pemerintah perlu membuka keran stimulus, baik moneter maupun fiskal, yang dibarengi dengan reformasi struktural,” ujarnya kepada CNBC.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan China mengumumkan rencana penerbitan obligasi pemerintah khusus berjangka sangat panjang pada tahun depan untuk mendanai proyek infrastruktur strategis. Pemerintah juga berkomitmen mendorong konsumsi domestik guna menghadapi tekanan deflasi.

Respons Pasar Global

Di pasar keuangan, indeks CSI 300 China menguat 0,43 persen pada perdagangan Senin. Nilai tukar yuan onshore stabil di level 7,04 per dolar AS, sementara yuan offshore melemah tipis ke posisi 7,03 per dolar AS.

Pasar Asia-Pasifik secara umum menguat seiring investor menantikan keputusan suku bunga China. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,54 persen pada perdagangan awal.

Di Jepang, Indeks Nikkei 225 melonjak 1,58 persen, sementara Topix naik 0,86 persen. Penguatan ini terjadi setelah Bank Sentral Jepang menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 0,75 persen, tertinggi dalam tiga dekade, pada Jumat lalu.

Di Korea Selatan, Indeks Kospi melonjak 1,83 persen, sedangkan Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil naik 0,99 persen. Kontrak berjangka Indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 25.843, lebih tinggi dari penutupan terakhir di 25.690,53.

Sementara itu, bursa Wall Street juga menguat pada Jumat lalu. Nasdaq Composite naik 1,31 persen ke level 23.307,62, S&P 500 bertambah 0,88 persen ke 6.834,50, dan Dow Jones Industrial Average naik 183,04 poin atau 0,38 persen ke 48.134,89.

Penguatan saham Amerika Serikat (AS) didorong oleh reli saham teknologi, khususnya Oracle yang melonjak 6,6 persen. Ini setelah TikTok sepakat menjual operasinya di AS kepada perusahaan patungan baru yang melibatkan Oracle dan investor ekuitas swasta Silver Lake. (hm16)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN