Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Film Dilan ITB 1997 Tuai Kontroversi

Mistar.idMinggu, 5 April 2026 11.37
EH
film_dilan_itb_1997_tuai_kontroversi

Ariel NOAH perankahn Dilan. (Foto: Dok. Falcon Pictures)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Rumah produksi Falcon Pictures merilis trailer film terbaru dari semesta Dilan berjudul Dilan ITB 1997. Film ini langsung mencuri perhatian publik, tidak hanya karena pergantian pemeran utama dengan Ariel NOAH sebagai Dilan, tetapi juga karena dialog penutup yang dianggap sensitif.

Dalam cuplikan singkat tersebut, ditampilkan suasana Bandung pada akhir 1990-an yang sarat dengan dinamika pergerakan mahasiswa. Dilan digambarkan telah menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan terlibat dalam aksi demonstrasi, dengan latar spanduk tuntutan reformasi.

Kontroversi muncul pada bagian akhir trailer ketika Dilan bersama mahasiswa lain menyaksikan siaran pengunduran diri Presiden Soeharto pada Mei 1998. Saat mahasiswa lain merayakan momen tersebut, Dilan justru berekspresi datar dan mengucapkan, “Terima kasih, Soeharto.”

Dialog ini langsung memicu beragam reaksi di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan maknanya, apakah merupakan bentuk sindiran, satir, atau memiliki konteks tertentu dalam alur cerita. Ada pula yang menilai kalimat tersebut kurang sensitif terhadap sejarah perjuangan reformasi 1998.

Komentar netizen pun beragam. Salah satu pengguna mengaku terkejut dan mempertanyakan apakah dialog tersebut dimaksudkan sebagai pujian atau justru humor sarkastik.

Sementara lainnya menilai adegan tersebut terasa janggal, meski mungkin sesuai dengan karakter Dilan dalam novel karya Pidi Baiq.

Selain Ariel, trailer ini juga memperkenalkan pemain lain seperti Niken Anjani sebagai Ancika dan Raline Shah yang memerankan Milea. Kehadiran mereka menandai perubahan nuansa film, dari kisah remaja menjadi cerita yang lebih dewasa dengan latar sejarah politik.

Dari sisi produksi, sentuhan Pidi Baiq dan Fajar Bustomi sebagai sutradara tetap mempertahankan nuansa nostalgia, namun dengan skala yang lebih besar. Adegan aksi mahasiswa ditampilkan lebih kolosal dan autentik sesuai kondisi saat itu.

Hingga kini, pihak produksi belum memberikan penjelasan terkait makna dialog yang menuai perdebatan.

Film ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 30 April 2026, dan memunculkan rasa penasaran apakah akan tetap berfokus pada romansa atau berkembang menjadi kritik sosial terhadap masa transisi demokrasi Indonesia. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN