Tensi Geopolitik Memanas, Harga dan Ekspor Karet Sumut Berpotensi Melonjak Dua Kali Lipat

Ilustrasi tensi geopolitik yang memanas mendorong harga dan ekspor karet Sumut berpotensi meningkat signifikan. (Foto: Gemini)
Medan, MISTAR.ID
Eskalasi konflik di Timur Tengah membawa dampak ganda bagi komoditas karet asal Sumatera Utara. Di satu sisi, permintaan global meningkat tajam untuk kebutuhan industri militer, namun di sisi lain ancaman krisis logistik membayangi jalur pengiriman internasional.
Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa harga karet dunia saat ini berada di kisaran 203 yen per kilogram. Meski sedikit terkoreksi dari level tertinggi 207 yen, tren harga sepanjang 2026 masih menunjukkan performa yang kuat.
Kenaikan harga ini juga diikuti lonjakan kinerja ekspor karet dari Sumatera Utara yang cukup signifikan pada April. Gunawan melihat adanya potensi peningkatan ekspor dari produsen lokal yang dipicu oleh tingginya kebutuhan bahan baku alat utama sistem persenjataan (alutsista).
“Lonjakan ekspor ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah, di mana karet masih menjadi bahan baku penting untuk kendaraan militer maupun perlengkapan lainnya. Potensi kenaikannya mulai dari 12,5 persen hingga ada produsen yang berpeluang meningkatkan ekspor hingga dua kali lipat,” ujar Gunawan, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, harga karet masih berpeluang melanjutkan tren kenaikan dalam jangka pendek, seiring dinamika geopolitik global yang terus berkembang.
Namun di tengah tingginya permintaan, eksportir karet Sumut menghadapi tantangan besar dalam distribusi ke negara tujuan seperti Iran, Irak, dan kawasan Timur Tengah lainnya. Penutupan Selat Hormuz menjadi ancaman serius bagi kelancaran arus logistik.
“Logistik menjadi tantangan utama. Keterlambatan pengiriman dan potensi kenaikan biaya distribusi akan menambah beban bagi eksportir karet,” katanya.
Secara keseluruhan, Gunawan menilai komoditas karet menjadi salah satu yang paling diuntungkan saat tensi geopolitik meningkat. Kondisi ini membuka peluang bagi petani dan produsen di Sumatera Utara untuk mendapatkan harga jual yang lebih kompetitif di pasar global.
“Dalam situasi seperti ini, karet termasuk komoditas yang diuntungkan. Petani dan produsen berpeluang merasakan dampak positif serta mempertahankan harga yang kompetitif,” tutupnya.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















