Saham BSDE Tahan Badai, Mandiri Sekuritas Rekomendasikan Buy

llustrasi Kota mandiri PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) (Foto: Antara)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Di tengah tekanan hebat yang melanda pasar saham, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) justru mampu menunjukkan ketahanan. Saham emiten properti milik Grup Sinar Mas ini tercatat tidak mengalami koreksi sedalam mayoritas saham lain saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilanda turbulensi.
Pada perdagangan Senin (2/2/2026), saham BSDE ditutup stagnan di level Rp 900. Kondisi tersebut kontras dengan pergerakan IHSG yang anjlok hingga 4,88 persen ke posisi 7.922,73 akibat tekanan jual yang masif.
Jika menilik pergerakan sepekan terakhir, saham berkode BSDE memang cenderung bergerak di zona merah. Namun, penurunannya relatif terbatas. Dalam periode tersebut, saham Bumi Serpong Damai hanya terkoreksi sekitar 4,76 persen.
Dari sisi valuasi, BSDE masih tergolong murah. Rasio price to book value (PBV) tercatat di level 0,45 kali, yang mencerminkan nilai buku per saham berada di kisaran Rp 2.000. Sementara itu, price earning ratio (PER) BSDE berada di level 10,48 kali secara annualized.
Kinerja keuangan perseroan juga masih solid. Hingga sembilan bulan pertama 2025, BSDE mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 8,76 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp 1,36 triliun.
Melihat kinerja dan valuasi tersebut, Mandiri Sekuritas (Mansek) merekomendasikan buy untuk saham Bumi Serpong Damai. Broker pelat merah itu memasang target harga Rp 1.360 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan hingga 51 persen dari harga saat ini.
Mansek mencatat, BSDE berhasil membukukan prapenjualan sebesar Rp 2,9 triliun pada kuartal IV 2025, tumbuh 2,4 persen secara tahunan (yoy). Dengan capaian tersebut, total prapenjualan sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 10 triliun, setara 100 persen dari target manajemen dan 103 persen dari proyeksi Mandiri Sekuritas.
Namun demikian, Mansek mengingatkan adanya kontribusi signifikan dari transaksi non-organik. Penjualan lahan usaha patungan (joint venture) dan penjualan lahan kepada pihak berelasi masing-masing menyumbang sekitar Rp 1,5 triliun pada kuartal IV 2025 dan Rp 3,2 triliun sepanjang tahun 2025.
“Setelah mengecualikan faktor tersebut, prapenjualan organik mengalami penurunan masing-masing 41,8 persen yoy pada kuartal IV 2025 dan 18,2 persen yoy sepanjang tahun 2025, seiring melemahnya penjualan segmen perumahan dan properti komersial,” tulis Mansek dalam laporan Investor Digest.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















