Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Semakin Terpuruk, Sentimen Negatif Harga Minyak Mentah

Mistar.idSenin, 18 Mei 2026 pukul 10.36 WIB
rupiah_semakin_terpuruk_sentimen_negatif_harga_minyak_mentah

Rupiah dan Dolar AS. (Foto: Antara/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Nilai tukar Rupiah semakin terpuruk. Pada pembukaan perdagangan pagi ini, Senin (18/5/2026), rupiah ditransaksikan di level Rp17.655 per Dolar AS.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan penyebab anjloknya nilai rupiah karena menghadapi tekanan eksternal yang dipicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

Seperti yang diketahui, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kokoh di kisaran 108 Dolar AS per barel dan jenis Brent menyentuh 111 Dolar AS per barel. Harga ini membuat meningkatnya kekhawatiran global terhadap ancaman inflasi tinggi akibat mahalnya harga energi.

Gunawan menjelaskan, sebagai negara importir minyak (net oil importer), kenaikan harga minyak dunia secara otomatis akan memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia dan memperberat beban APBN untuk subsidi energi. Faktor inilah yang membuat investor melepas Rupiah dan beralih ke aset aman (safe haven) Dolar AS.

"Kinerja mata uang Rupiah ditransaksikan melemah ke level 17.655 per US Dolar pada pagi ini. Pasar keuangan domestik, khususnya pasar valas, masih terus diselimuti sentimen negatif akibat lompatan harga minyak mentah tersebut," kata Gunawan.

Lebih lanjut, Gunawan menjabarkan meroketnya harga komoditas energi ini merupakan dampak langsung dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang justru semakin memanas dan menjauh dari kata damai.

"Amerika Serikat kembali menebar ancaman ke Iran, begitu pula sebaliknya. Negosiasi damai yang digaungkan sebelumnya justru bertolak belakang dengan realitas di lapangan. Bahkan di akhir pekan kemarin, serangan militer terhadap fasilitas energi di Timur Tengah tak luput terjadi," ucapnya.

Keterpurukan Rupiah di awal pekan langsung berimbas pada kejatuhan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan merosot ke level 6.628 dan terus bergerak turun mendekati level psikologis 6.500.

Di sisi lain, harga emas dunia juga ikut tertekan di kisaran 4.536 Dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,58 juta per gram akibat volatilitas tinggi di Selat Hormuz pada akhir pekan lalu.

"Dinamika pasar valuta asing dan keuangan ke depan dipastikan akan kembali fokus pada perkembangan perang di Timur Tengah dibandingkan dengan rilis data ekonomi fundamental. Rupiah masih akan menghadapi ujian berat selama tensi politik dunia belum mereda," ucap Gunawan. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN