Rupiah Nyaris Rp17.000/Dolar, Ekonom Sebut Indonesia Belum Resesi

Ilustrasi. (foto:dokumen/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Nilai tukar Rupiah yang terus merosot hingga nyaris menyentuh level psikologis Rp17.000 per Dolar AS pada Maret 2026 memicu kekhawatiran publik. Meski demikian, pengamat ekonomi menilai kondisi ini belum membawa Indonesia ke jurang resesi, melainkan fase pertumbuhan ekonomi yang melambat atau suboptimal.
Pengamat Ekonomi dari STIE Professional Manajemen College Indonesia (PMCI), Sunarji Harahap, menjelaskan bahwa pelemahan ini merupakan dampak dari "badai sempurna" yang menggabungkan tensi geopolitik Timur Tengah dengan ketidakpastian kebijakan bank sentral AS, The Fed.
Menurut Sunarji, angka Rp17.000 adalah batas krusial yang mempengaruhi kepercayaan investor. Ketegangan global memaksa investor memindahkan dana mereka ke aset aman (safe haven) seperti Dolar AS dan emas, sehingga memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Level Rp17.000 menciptakan sentimen wait-and-see hingga kepanikan ringan bagi investor asing. Hal ini berpotensi menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Surat Berharga Negara (SBN) dalam jangka pendek," kata Sunarji, Rabu (11/3/2026).
Menanggapi isu resesi, Sunarji menegaskan bahwa fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat untuk bertahan. Namun, tantangan nyata yang ada di depan mata adalah inflasi impor (imported inflation), terutama pada harga sembako dan bahan baku industri.
"Indonesia tidak sedang dalam kondisi resesi teknis. Namun, kita menghadapi tekanan pertumbuhan yang melambat. Daya beli masyarakat akan sangat bergantung pada efektivitas pemerintah dalam mengelola impor dan mengendalikan harga pangan, terutama menjelang Lebaran," ucapnya.
Ia menambahkan bahwa subsidi energi saat ini masih cukup efektif menjaga harga di tingkat konsumen, namun biaya logistik dan bahan baku impor yang membengkak akibat kurs tetap berisiko menaikkan harga pangan.
Terkait langkah stabilisasi, Sunarji melihat Bank Indonesia (BI) sedang berada dalam posisi sulit. Saat ini, BI masih mengandalkan intervensi ganda di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
"Menaikkan suku bunga di saat ekonomi butuh stimulan adalah 'pilihan pahit' yang dihindari BI. Namun, jika Rupiah terus melemah drastis dan tidak terkendali, kenaikan suku bunga acuan menjadi langkah yang tak terhindarkan untuk menahan kejatuhan lebih dalam," ujarnya.
Menjelang Idulfitri yang diprediksi jatuh pada akhir Maret 2026, Rupiah diperkirakan masih akan tertahan di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000. Sunarji mengingatkan masyarakat untuk lebih cermat dalam mengelola keuangan selama masa Ramadan ini.
"Masyarakat disarankan mengelola keuangan dengan bijak karena potensi kenaikan harga barang dan biaya mudik cukup tinggi akibat eskalasi geopolitik global dan sentimen pasar yang masih berisiko (risk-off)," tutur Sunarji. (hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Harga Cabai di Pasar Pangururan Turun, Bawang Merah Impor NaikBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















