Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah dan IHSG Tertekan, Dolar AS Perkasa di Tengah Eskalasi Konflik

Mistar.idRabu, 4 Maret 2026 pukul 09.59 WIB
rupiah_dan_ihsg_tertekan_dolar_as_perkasa_di_tengah_eskalasi_konflik_

Karyawan money changer menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Tekanan di pasar keuangan domestik kembali meningkat seiring memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat sejak akhir Februari lalu. Penguatan Dolar AS membuat nilai tukar Rupiah mendekati level Rp17.000 per dolar, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi cukup dalam.

Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menyebut penguatan sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

Ia menjelaskan, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik dari 3,94 persen menjadi 4,06 persen. Selain itu, indeks Dolar AS juga menguat dari 97,6 ke 99,1 setelah meningkatnya tensi geopolitik. Kondisi tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman berbasis Dolar AS.

“Lonjakan dua indikator tersebut sempat menekan Rupiah. Pelaku pasar memburu Dolar AS sebagai safe haven, selain emas. Pada perdagangan pagi ini, Rupiah berada di kisaran Rp16.925 per Dolar AS,” ujar Gunawan, Rabu (4/3/2026).

Pergerakan harga emas global juga terpantau fluktuatif. Setelah sempat turun ke level 5.080 Dolar AS per ons troy akibat spekulasi perundingan damai, harga kembali menguat ke sekitar 5.170 Dolar AS per ons troy atau setara Rp2,81 juta per gram.

Sementara itu, pasar saham domestik tak luput dari tekanan. IHSG dibuka melemah ke level 7.896, mengikuti tren koreksi yang terjadi di mayoritas bursa saham Asia.

Menurut Gunawan, pelemahan IHSG dipicu kekhawatiran terhadap potensi lonjakan inflasi, terutama akibat ancaman gangguan pasokan dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada daya beli masyarakat serta meningkatkan beban operasional perusahaan.

Ia memperkirakan volatilitas pasar masih akan berlanjut selama ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum mereda. Investor pun diimbau tetap waspada terhadap potensi tekanan lanjutan pada aset-aset berisiko.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN