Prabowo Buat Tiga Langkah Strategis untuk Stabilkan Ekonomi Indonesia


Prabowo. (f: ist/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Presiden Prabowo Subianto buat tiga langkah strategis untuk menghadapi tekanan ekonomi global, termasuk kebijakan tarif balasan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk kesiapan Indonesia dalam merespons dinamika geopolitik dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Noudhy Valdryno, langkah pertama adalah memperluas jaringan mitra dagang Indonesia melalui keanggotaan dalam berbagai blok ekonomi besar.
Pada minggu pertama setelah dilantik, Prabowo mengajukan keanggotaan Indonesia dalam BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), yang mencakup 40 persen perdagangan global.
“Indonesia juga terus memperkuat perjanjian dagang multilateral seperti RCEP, OECD, CP-TPP, IEU-CEPA, dan I-EAEU CEPA,” kata Noudhy, dilansir dari detikcom, Sabtu (5/4/2025).
Di sisi lain, Indonesia memiliki sejumlah perjanjian bilateral dengan negara seperti Jepang, Korea, Australia, Uni Emirat Arab, dan Iran, yang semakin memperkuat posisi ekspor Indonesia di pasar global.
Kebijakan besar kedua adalah percepatan hilirisasi sumber daya alam (SDA). Selama ini Indonesia mengekspor SDA dalam bentuk mentah. Kini, hilirisasi difokuskan untuk meningkatkan nilai tambah dan menciptakan kemandirian industri dalam negeri.
Salah satu contoh nyata adalah sektor nikel, yang nilai ekspornya meningkat drastis dari US$ 3,7 miliar (2014) menjadi US$ 34,3 miliar (2022). Untuk mempercepat proses ini, Prabowo meluncurkan Badan Pembangunan Industri Danantara (BPI Danantara) pada 24 Februari 2025. Lembaga ini akan mendanai proyek hilirisasi di berbagai sektor strategis seperti mineral, migas, perkebunan, perikanan, dan kehutanan.
Gebrakan ketiga adalah memperkuat konsumsi domestik melalui program-program berbasis kesejahteraan rakyat. Program andalan Prabowo adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menargetkan 82 juta penerima manfaat pada akhir 2025.
Selain itu, pemerintah akan membangun 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk menggerakkan ekonomi desa, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan perputaran uang di daerah.
Dengan konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54 persen dari PDB, langkah ini diyakini mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional.
“Dengan memperkuat hubungan dagang internasional, mengoptimalkan potensi SDA, dan meningkatkan konsumsi dalam negeri, Presiden Prabowo membuktikan bahwa Indonesia dapat tetap tumbuh meskipun di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” ucap Noudhy. (detik/hm20)
PREVIOUS ARTICLE
Trump Naikkan Tarif, Ekspor dari Sumut Diprediksi Terpuruk