Pengamat Ekonomi Ingatkan Dampak Kabut Asap Medan, Daya Beli Masyarakat Terancam

Kondisi kabut asap di Kota Medan. (foto: Iqbal/MISTAR)
Medan, MISTAR.ID - Ancaman kabut asap yang menyelimuti Kota Medan berpotensi menekan aktivitas ekonomi masyarakat dan melemahkan daya beli. Kondisi ini perlu diwaspadai jika kabut asap berlangsung lama dan memicu peningkatan pengeluaran rumah tangga.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan penurunan tekanan inflasi tidak selalu bersumber dari pemulihan daya beli masyarakat.
"Masyarakat kerap menafsirkan penurunan harga, bahkan deflasi, sebagai pemicu terciptanya pemulihan daya beli. Peningkatan daya beli yang didorong kenaikan pendapatan masyarakat justru berpeluang memicu kenaikan permintaan yang menyebabkan inflasi permintaan atau demand-pull inflation," katanya, Jumat (16/10/2026).
Di luar dinamika makroekonomi tersebut, kondisi masyarakat di lapangan juga diuji oleh kabut asap. Menurut Gunawan, dampak ekonomi akibat kabut asap dapat diamati melalui tiga indikator utama.
Pertama, penurunan mobilitas masyarakat akibat terbatasnya jarak pandang dan buruknya kualitas udara. Kedua, berkurangnya aktivitas belanja masyarakat di ruang publik. Ketiga, meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk meminimalkan dampak kesehatan, seperti membeli masker dan produk perlindungan kesehatan lainnya.
"Jika kita telusuri sektor ekonomi yang paling rentan, publik perlu melihat respons kebijakan cepat tanggap yang dilakukan pemerintah. Contohnya, Gubernur Sumatera Utara yang mengarahkan agar dilakukan pembelajaran jarak jauh bagi siswa, yang otomatis langsung memangkas geliat ekonomi mikro di kawasan pendidikan," ucapnya.
Menurut Gunawan, kebijakan pembelajaran jarak jauh turut berdampak terhadap pedagang kuliner skala kecil, sektor perdagangan eceran, pengelola kantin sekolah, hingga pedagang bahan bakar minyak (BBM) eceran. Mereka berpotensi mengalami penurunan omzet akibat berkurangnya aktivitas pelajar.
"Yang perlu diwaspadai, kemungkinan kabut asap akan berlangsung lama yang bisa memicu tekanan ekonomi lebih besar. Semakin lama, geliat ekonomi juga akan turun. Ini tidak bisa dibiarkan, karena kondisi ekonomi masyarakat rawan terguncang, terlebih jika sudah merembet pada gangguan kesehatan yang memicu penambahan sisi pengeluaran masyarakat," ujar Gunawan.
Karena itu, Gunawan menilai langkah paling mendesak saat ini adalah memadamkan sumber titik api penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga tuntas.
Menurutnya, seluruh upaya harus diarahkan untuk memulihkan kondisi lingkungan seperti sediakala dan menghentikan karhutla. Jika pemadaman tidak berhasil, dampak berantai (multiplier effect) terhadap perekonomian berpotensi semakin besar dan memicu pelemahan daya beli masyarakat secara berkelanjutan. (*)
PREVIOUS ARTICLE
OJK Respons Usulan MSCI Turunkan Status Pasar RI












































