Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Lonjakan Harga Ayam di Medan Disebabkan Biaya Produksi dan Permintaan Ramadan, Bukan MBG

Mistar.idKamis, 19 Februari 2026 pukul 18.16 WIB
lonjakan_harga_ayam_di_medan_disebabkan_biaya_produksi_dan_permintaan_ramadan_bukan_mbg

Penjual ayam di Pasar Petisah. (Foto: amita/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Lonjakan harga daging ayam potong yang menembus Rp42.000 per kilogram (kg) di pasar-pasar tradisional Kota Medan belakangan ini memicu spekulasi di tengah masyarakat. Muncul anggapan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penyebab tersedotnya stok di pasar.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Sunarji Harahap, M.M., menyebut kenaikan harga yang terjadi saat ini merupakan kombinasi antara faktor biaya produksi dan lonjakan permintaan menjelang Ramadan (faktor musiman).

“Penyebab kenaikan harga bukan karena MBG. Sebaliknya, MBG membuat permintaan lebih terukur sehingga produksi bisa menyesuaikan. Kenaikan ini disebabkan minimnya pasokan Day Old Chicken (DOC), cuaca ekstrem, dan biaya produksi yang tinggi. Faktor psikologi pasar menjelang puasa yang meningkatkan permintaan secara signifikan menjadi pemicu utamanya,” kata Sunarji, Kamis (19/2/2026).

Meskipun membantah keterlibatan MBG dalam inflasi saat ini, Sunarji mengingatkan pemerintah untuk tetap waspada. Jika ke depan program ini mulai memengaruhi harga, perlu ada pemisahan rantai pasok.

“Pemerintah perlu menerapkan strategi rantai pasok yang berfokus pada lokalisasi dan efisiensi. Tujuannya adalah memisahkan pasokan untuk program nasional dari pasar tradisional guna mencegah inflasi harga pangan di tingkat konsumen umum,” ucapnya.

Terkait proyeksi harga bahan pokok selama bulan Maret 2026, Sunarji memprediksi tren kenaikan masih akan berlanjut. Berdasarkan data terkini, komoditas hortikultura dan daging akan mengalami kenaikan moderat hingga signifikan.

“Harga cenderung terus merangkak naik atau bertahan tinggi setelah masa punggahan hingga mendekati hari raya, bukan melandai. Penurunan harga umumnya baru terjadi setelah Idulfitri. Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan operasi pasar untuk menambah pasokan langsung ke masyarakat,” ujarnya.

Menyikapi situasi ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Sumut telah menetapkan enam langkah strategis untuk mengendalikan inflasi di bulan Februari dan Maret:

Pertama, peningkatan frekuensi pasar murah untuk menjangkau masyarakat bawah; kedua, monitoring harga intensif guna mencegah penimbunan; ketiga, penguatan kerjasama antar daerah untuk distribusi pasokan surplus.

Selain itu, langkah-langkah lainnya mencakup optimalisasi gerakan pangan murah yang melibatkan BUMD, penguatan data ketersediaan stok yang akurat, serta pengendalian transportasi dan logistik guna kelancaran distribusi.

Sunarji mengimbau masyarakat untuk menjalankan strategi rumah tangga proaktif, seperti belanja bijak sesuai rencana, melakukan substitusi bahan pangan (diversifikasi menu), hingga memulai kemandirian pangan melalui urban farming.

“Manfaatkan pekarangan rumah untuk menanam komoditas yang harganya sering fluktuatif, seperti cabai dan tomat. Ini adalah langkah kecil yang sangat membantu menjaga ketahanan pangan rumah tangga,” tuturnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN