Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Kredit Macet Multifinance Rp22 Triliun Dihapus Buku, Penagihan Makin Menantang

Mistar.idSenin, 22 Desember 2025 18.22
journalist-avatar-top
kredit_macet_multifinance_rp22_triliun_dihapus_buku_penagihan_makin_menantang

Ilustrasi mobil kredit (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Industri pembiayaan atau multifinance mencatat nilai kredit bermasalah yang dihapus buku (write off) mencapai Rp22 triliun. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya tantangan penagihan utang di lapangan, khususnya pada pembiayaan kendaraan bermotor.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi, menjelaskan bahwa rasio kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF) multifinance saat ini berada di kisaran 2,5%. Persentase tersebut setara dengan sekitar 2,5% dari total pembiayaan industri yang mencapai Rp507,1 triliun per September 2025.

Namun, angka NPF tersebut dihitung berdasarkan keterlambatan pembayaran lebih dari 10 hari. Untuk pembiayaan yang telah menunggak berbulan-bulan dan dinilai sulit tertagih, perusahaan pembiayaan akan melakukan hapus buku secara akuntansi. Meski dikeluarkan dari neraca dan tidak lagi tercatat sebagai NPF, kewajiban debitur secara hukum tetap ada dan masih dapat ditagih.

Suwandi mengungkapkan bahwa hingga Juli 2025, total kredit macet yang telah dihapus buku oleh industri multifinance mencapai Rp22 triliun. Nilai tersebut dinilai cukup signifikan dan mencerminkan tekanan yang dihadapi perusahaan pembiayaan.

Salah satu faktor utama penyebab tingginya nilai hapus buku adalah pembiayaan kendaraan yang macet, sementara unit kendaraan sudah berpindah tangan ke pihak lain. Selain itu, maraknya praktik jual beli kendaraan dengan status STNK only, meski kredit belum lunas, turut memperumit proses penagihan.

Kondisi tersebut kerap memicu konflik saat penarikan kendaraan, terutama ketika unit sudah berada di tangan pihak ketiga. Di sisi lain, proses penagihan juga sering menghadapi gangguan dari berbagai pihak, mulai dari tekanan organisasi tertentu hingga narasi di media sosial yang membenarkan transaksi kendaraan STNK only.

Di tengah tantangan tersebut, kinerja industri multifinance juga menunjukkan perlambatan. Hingga September 2025, total pembiayaan hanya tumbuh 1,1% secara tahunan menjadi Rp507,1 triliun. Perlambatan ini berdampak pada laba industri yang terkontraksi 4,9% menjadi Rp16,1 triliun.

Dari sisi permodalan, total aset 145 perusahaan multifinance di Indonesia tercatat sebesar Rp587,4 triliun atau tumbuh 0,74% secara tahunan. Sementara itu, total ekuitas meningkat 5,29% menjadi Rp173,5 triliun, mencerminkan upaya industri menjaga ketahanan di tengah tekanan kualitas pembiayaan.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN