Monday, August 31, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Konflik AS-Iran Memanas Lagi, Harga Minyak Brent Tembus US$90

Mistar.idSenin, 31 Agustus 2026 pukul 10.28 WIB
konflik_asiran_memanas_lagi_harga_minyak_brent_tembus_us90

Kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz, 21 Desember 2018. (foto: Reuters/Hamad I Mohammed)

news_banner

New York, MISTAR.ID - Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Senin (31/8/2026), setelah konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Harga minyak mentah Brent bahkan telah menembus level US$90 per barel.

Mengutip Reuters, Brent naik 2,8 persen menjadi US$90,60 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,5 persen menjadi US$85,53 per barel.

Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan perdagangan Senin pagi. Sebelumnya, Brent masih berada di US$89,79 per barel, sedangkan WTI US$84,94 per barel.

Reuters melaporkan, kenaikan harga minyak terjadi setelah pasukan AS menyerang dua peluncur Iran di Pulau Larak yang berada di Selat Hormuz, Minggu (30/8/2026).

Seorang pejabat AS mengatakan peluncur yang dioperasikan Korps Garda Revolusi Iran itu tengah bersiap melakukan peletakan ranjau laut di Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke dua pangkalan militer AS di Yordania. Militer Yordania menyatakan delapan rudal yang memasuki wilayah udaranya berhasil dicegat.

Masih berdasarkan laporan Reuters, eskalasi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis.

Sebelum konflik pecah pada Februari, hampir seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati kawasan tersebut.

Aktivitas pelayaran yang terlihat di Selat Hormuz juga kembali menurun setelah serangan terbaru. Sejumlah kapal dilaporkan mematikan sistem identifikasi otomatis atau AIS untuk mengurangi risiko menjadi sasaran.

Reuters juga melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil saat memasuki Selat Hormuz pada Sabtu (29/8/2026), yang semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur pelayaran.

Analis pasar IG Tony Sycamore, dikutip Reuters, menilai perkembangan terbaru menunjukkan konflik telah memasuki fase eskalasi baru.

Menurutnya, apabila WTI mampu menembus area US$85,80 hingga US$85,90 per barel, harga minyak berpeluang menguji level tertinggi pekan lalu US$87,69 dan selanjutnya US$93,50 per barel.

Kenaikan harga minyak turut menambah kekhawatiran terhadap inflasi global. Reuters mencatat pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September mencapai sekitar 57 persen.

Sebelumnya, MISTAR.ID memberitakan AS kembali menyerang Iran setelah sekitar satu bulan tanpa aksi militer langsung. Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dengan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN