Monday, August 31, 2026
home_banner_first
HUKUM & PERISTIWA

Bekas Galian Pipa Gas Kembali Dikeluhkan, Bus Antarprovinsi Terperosok di Asahan

Mistar.idSenin, 31 Agustus 2026 pukul 11.18 WIB
bekas_galian_pipa_gas_kembali_dikeluhkan_bus_antarprovinsi_terperosok_di_asahan

Bus antarprovinsi terperosok di Desa Pulau Maria, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Asahan, karena lubang bekas galian pipa transmisi gas Dumai-Sei Mangkei Segmen 1C belum tertutup sempurna, Senin (31/8/2026). (Foto: Dok. Firman/Mistar)

news_banner

Asahan, MISTAR.ID – Bekas galian proyek pemasangan pipa transmisi gas Dumai-Sei Mangkei Segmen 1C di Desa Pulau Maria, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Asahan, kembali dikeluhkan warga, setelah sebuah bus antarprovinsi terperosok karena lubang galian belum tertutup sempurna, Senin (31/8/2026).

“Kejadian sekitar jam tujuh pagi kemarin. Bus dari arah Rantau Parapat hendak mendahului mobil lain dan terperosok ke beram jalan bekas galian pipa gas Dumai-Sei Mangkei yang belum sempurna ditutup,” kata warga Teluk Dalam, Firman.

Mengenai belum lubang bekas galian pipa gas Dumai-Sei Mangkei sebelumnya sudah pernah diprotes masyarakat. Laporan tertulis kepada Inspektorat Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI mengenai masalah ini juga telah diberikan warga pada 28 Agustus 2026.

Surat yang sama ditujukan kepada manajemen KSO PT Indo Rekaelka Sinergi–PT Global Inti Kesemakmuran Perkasa serta Konsorsium KSO PT Wijaya Karya (Persero) Tbk–PT Nindya Karya di Jakarta.

Warga meminta pemulihan jalan setelah penggalian dilakukan secara optimal agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.

Perwakilan masyarakat Teluk Dalam, Johan Wahyudi, menyebutkan kondisi kawasan tersebut berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat yang bermukim maupun menjalankan usaha di sepanjang jalan lintas Sumatera.

“Kami bukan menolak pembangunan, tetapi meminta agar pelaksanaan kegiatan, terutama terkait pekerjaan pemulihan dan perapian area terdampak, benar-benar sesuai standar fungsi jalan dan memberikan jaminan keselamatan bagi masyarakat yang tinggal dan memiliki tempat usaha di sepanjang jalan lintas yang terkena proyek,” ujar Johan.

Menurut Johan, persoalan muncul setelah sejumlah titik bekas galian ditimbun kembali. Warga menduga proses pemulihan tersebut belum sepenuhnya memenuhi standar atau spesifikasi teknis yang dibutuhkan untuk membuat bahu jalan kembali stabil.

Kondisi bahu jalan yang masih labil dinilai berisiko bagi kendaraan, terutama kendaraan bertonase besar.

“Sudah banyak kendaraan, khususnya mobil truk, bus, yang menjadi korban dan nyaris terbalik karena terjebak pada beram jalan bekas galian pipa proyek ini,” ujarnya.

Dampak pekerjaan proyek mengganggu aktivitas sehari-hari warga karena akses keluar-masuk rumah dan tempat usaha belum seluruhnya dikembalikan ke kondisi semula.

Di antaranya akses menuju rumah makan, klinik kesehatan, Puskesmas, tambal ban, dan sejumlah usaha masyarakat lainnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari manajemen proyek maupun instansi terkait mengenai laporan dan keluhan yang disampaikan perwakilan masyarakat Desa Air Teluk Kiri.[]



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN