Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Kisah Mariono: Merajut Asa di Sela Kunci Inggris Setelah Banjir

Mistar.idRabu, 18 Maret 2026 pukul 06.00 WIB
kisah_mariono_merajut_asa_di_sela_kunci_inggris_setelah_banjir

Mekanik difabel binaan Pertamina EP Rantau Field melakukan pergantian oli gratis untuk masyarakat di Pelataran Rumah Kreatif Tamiang. (Foto: Pertamina EP Rantau Field)

news_banner

Aceh, MISTAR.ID

Aroma oli dan deru mesin sepeda motor perlahan kembali memenuhi sudut bengkel di pinggir jalan lintas Medan-Banda Aceh, Kecamatan Karang Baru. Di sana, Mariono, 43 tahun tampak sibuk. Meski tongkat ketiak tak pernah jauh dari sisinya, tangan pria yang akrab disapa Nono ini bergerak lincah, menari di antara baut dan rantai yang kotor.

Bagi Nono, bengkel ini bukan sekadar tempat kerja. Ia adalah monumen keberaniannya melawan keterbatasan sebagai penyandang tunadaksa. Namun, lebih dari itu, bengkel binaan Pertamina EP Rantau Field ini adalah saksi bisu bagaimana harapan bisa tenggelam dan bangkit kembali.

"Bengkel ini pemberi kehidupan bagi saya dan keluarga. Semenjak dapat pelatihan dan diberdayakan jadi mekanik, ekonomi saya jadi lebih baik," kata Nono saat berbincang, Selasa (17/3/2026).

Langkah hidup Nono berubah drastis sejak ia bergabung dengan kelompok bengkel difabel enam tahun silam. Dari seorang pria yang hidupnya bergantung pada keluarga, ia bertransformasi menjadi kepala rumah tangga yang mandiri.

Kepercayaan dirinya tumbuh seiring kemahirannya mendiagnosis "penyakit" mesin. Bahkan, penghasilan dari kunci Inggris inilah yang memberinya keberanian meminang sang istri.

Namun, hidup tak selamanya linier. Ujian hebat menerjang pada 26 November 2025. Banjir bandang meluluhlantakkan Aceh Tamiang, termasuk bengkel yang menjadi tumpuan hidupnya.

"Semua barang yang saya miliki sudah hancur. Penghasilan tidak ada karena bengkel porak-peranda. Semua capaian habis hanya dalam hitungan hari," ucapnya dengan suara yang getir.

Berhari-hari Nono terpaksa mengungsi, kembali ke titik nol, hidup dari belas kasih orang lain. Namun, filosofi Jawa madep mantep (teguh dan yakin) yang ia pegang teguh membuatnya tak menyerah. Setiap hari, ia mengunjungi reruntuhan bengkel, bergotong royong mengeruk lumpur sisa banjir, seolah sedang membersihkan luka di hatinya sendiri.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pertamina EP Rantau Field, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR), bergerak cepat. Melalui kolaborasi dengan Pertamina Lubricants, bengkel difabel tersebut direnovasi dan dibuka kembali. Momentun kebangkitan ini ditandai dengan program ganti oli gratis "Yuk Berbagi" pada Jumat (13/3/2026) lalu.

Manager CID PHR Regional 1 Sumatra, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan komitmen perusahaan untuk memulihkan produktivitas kelompok binaan pascabencana.

"Kami bergerak cepat membuka kembali bengkel agar mereka segera produktif, baik secara sosial maupun ekonomi," ujarnya.

Pada hari pembukaan tersebut, Nono dan enam rekan mekanik difabel lainnya langsung tancap gas. Mereka berhasil melayani penggantian 282 botol oli gratis bagi masyarakat penyintas banjir yang kendaraannya terdampak.

Head CSR Pertamina Lubricants, Asep Saputra, yang turut hadir membagikan oli, berharap bantuan ini bisa meringankan beban warga sekaligus menjadi bahan bakar semangat bagi para mekanik seperti Nono.

Kini, lumpur telah hilang, berganti dengan kilap oli baru. Bagi Nono, dibukanya kembali bengkel ini adalah jawaban atas doa-doanya di kala mengungsi.

"Saya bersyukur Pertamina bergerak cepat membantu kami. Barang yang raib dibeli lagi. Terima kasih saya diberi rezeki," tuturnya sembari kembali menggenggam kunci mekanik, siap menatap hari esok yang lebih cerah. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN