Inflasi di Kota Pematangsiantar Mulai Menunjukkan Tren Waspada

Akademisi Universitas Simalungun, Raja M Nainggolan. (f:abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Angka inflasi di Kota Pematangsiantar pada Februari 2026 mulai menunjukkan tren yang perlu diwaspadai. Berdasarkan data terbaru, inflasi tercatat sebesar 0,57 persen secara bulanan (m-to-m), 0,46 persen secara tahun berjalan (y-to-date), dan mencapai 5,52 persen secara tahunan (y-on-y).
Akademisi Universitas Simalungun (USI), Raja M. Nainggolan, menilai bahwa meski belum masuk kategori krisis, angka tahunan sebesar 5,52 persen merupakan sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat mulai tertekan.
Salah satu pemicu utama inflasi bulan ini adalah komoditas emas perhiasan yang menyumbang andil sebesar 0,27 persen. Raja menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan imbas langsung dari ketidakpastian global.
"Dalam situasi konflik geopolitik seperti perang antara Israel dan Iran, investor global cenderung mencari aset aman atau safe haven seperti emas. Hal ini mendorong harga emas dunia naik secara signifikan dan dampaknya terasa hingga ke level daerah," ujar Raja kepada Mistar.id, Rabu (11/3/2026).
Selain faktor global, komoditas pangan seperti tomat turut menyumbang inflasi sebesar 0,23 persen. Menurut Raja, kenaikan ini sangat dipengaruhi oleh faktor musiman dan distribusi menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Sesuai dengan teori demand-pull inflation, lonjakan permintaan masyarakat yang tidak dibarengi dengan stabilitas pasokan secara otomatis akan mendorong harga naik.
Apakah tren kenaikan ini akan berlanjut di bulan Maret, Raja menyebutkan dua variabel kunci, faktor musiman, jika tekanan Lebaran sudah terlewati, harga pangan biasanya akan mereda setelah puncak konsumsi dan stabilitas global, Jika konflik di Timur Tengah berlarut-larut, harga emas perhiasan kemungkinan besar masih akan memberikan kontribusi inflasi.
Untuk meredam gejolak harga, Raja menekankan pentingnya langkah strategis dari pemerintah daerah dan instansi terkait, seperti sinergi instansi, koordinasi intensif antara Bank Indonesia, TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah), dan Bulog untuk menjaga pasokan. Kerja sama Antarwilayah untuk memperkuat distribusi pangan dengan daerah penghasil lain agar tidak bergantung pada satu sumber. Dan terakhir melakuka pengawasan distribusi untuk menindak tegas spekulan yang mencoba mengambil keuntungan dari momentum kenaikan harga jelang hari besar.
"Transparansi informasi harga harus diperketat agar ekspektasi masyarakat tetap terjaga dan tidak terjadi kepanikan pasar," tuturnya. (abdi)
PREVIOUS ARTICLE
OJK Sumut: Stabilitas Keuangan Tetap Kuat, Restrukturisasi Kredit Tembus Rp957 MiliarNEXT ARTICLE
Bulog Sumut Salurkan Bantuan panganBERITA TERPOPULER
























