IHSG Menguat 1,19 Persen, Rupiah Melemah di Tengah Likuiditas Minim Akibat Libur Imlek

Pekerja di depan layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Bloomberg Technoz)
Medan, MISTAR.ID
Pasar keuangan domestik menunjukkan pergerakan variatif pada perdagangan Rabu (18/2/2026). Di tengah minimnya likuiditas akibat libur panjang perayaan Tahun Baru Imlek di China, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil mencatat penguatan signifikan, sementara nilai tukar Rupiah masih tertahan oleh sentimen global.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh penyesuaian bursa regional dan pernyataan pejabat bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
IHSG ditutup menguat tajam sebesar 1,19 persen ke level 8.310,227. Penguatan ini didorong oleh membaiknya kinerja mayoritas bursa saham di Asia. Sejumlah saham blue chip sektor perbankan dan teknologi menjadi motor utama penguatan indeks hari ini.
"Sejumlah emiten besar yang mendorong penguatan IHSG antara lain BMRI, BBCA, BBRI, GOTO, hingga TLKM. Penguatan ini tidak terlepas dari penyesuaian IHSG terhadap penguatan bursa lain di Asia selama libur kemarin," kata Gunawan, Rabu (18/2/2026).
Berbanding terbalik dengan bursa saham, nilai tukar Rupiah justru mengalami pelemahan. Rupiah ditutup pada level 16.875 per Dolar AS. Tekanan ini dipicu oleh pernyataan The Fed yang cenderung hawkish, mendorong naiknya USD Index ke level 97,30 dan imbal hasil (yield) US Treasury di atas 4 persen.
Di pasar komoditas, harga emas dunia menunjukkan sinyal pemulihan setelah sempat tertekan. Saat ini, emas ditransaksikan menguat ke level 4.914 Dolar AS per ons troy, atau setara dengan kisaran Rp2,7 juta per gram.
"Harga emas mengalami pemulihan setelah pejabat The Fed dari wilayah Chicago menyatakan pemangkasan bunga acuan bisa dilakukan tahun ini. Pasar selanjutnya menunggu rilis data inflasi AS yang menjadi penentu arah pasar berikutnya," ucap Gunawan.
Gunawan mengingatkan, saat ini pasar global kekurangan dukungan transaksi besar karena China masih merayakan libur Tahun Baru Imlek. Hal ini menyebabkan likuiditas di pasar keuangan menurun.
"Libur panjang di China membuat kinerja pasar kekurangan sentimen besar, sehingga pasar cenderung bergerak mendatar karena ketiadaan transaksi signifikan dari wilayah tersebut," ujarnya.
BERITA TERPOPULER























