Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Ditutup Menguat Tipis di Level 8.980, Pengamat Sebut Dipicu Faktor Teknikal

Mistar.idSelasa, 27 Januari 2026 17.07
journalist-avatar-top
AA
ihsg_ditutup_menguat_tipis_di_level_8980_pengamat_sebut_dipicu_faktor_teknikal

Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: CNBC Indonesia)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat bergerak fluktuatif di zona merah sebelum akhirnya ditutup menguat tipis pada perdagangan hari ini. Meski dibayangi sentimen negatif sejak akhir pekan lalu, indeks kebanggaan Indonesia tersebut berhasil ditutup di level 8.980 atau naik tipis 0,05 persen.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai dinamika pergerakan IHSG saat ini murni disebabkan oleh faktor teknikal, bukan karena dampak langsung pengangkatan pejabat baru di Bank Indonesia (BI).

“DPR memang telah resmi mengangkat Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Namun, menurut saya, pengangkatan tersebut tidak memiliki korelasi kuat terhadap kinerja IHSG belakangan ini. Koreksi yang sempat terjadi lebih dipicu oleh faktor teknikal karena harga saham dinilai sudah ‘kemahalan’ atau melampaui nilai fundamentalnya,” kata Gunawan, Selasa (27/1/2026).

Gunawan menambahkan, posisi IHSG di kisaran level 9.000 sebelumnya dinilai telah memperhitungkan potensi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 yang diproyeksikan berada di kisaran 5 persen (priced in).

“Harga IHSG di level 9.000 sudah melampaui nilai fundamentalnya. Pasar keuangan biasanya bergerak berdasarkan proyeksi masa depan, sehingga koreksi yang terjadi saat ini merupakan hal yang wajar dan sehat untuk menyeimbangkan kembali harga pasar dengan realitas ekonomi,” ucapnya.

Kinerja IHSG hari ini juga tercatat tidak sepenuhnya searah dengan bursa Asia lainnya yang mayoritas ditutup menguat.

Terkait isu yang mengaitkan pelemahan nilai tukar rupiah dengan pencalonan Wakil Menteri Keuangan menjadi Deputi Gubernur BI, Gunawan menilai hal tersebut lebih banyak didasari spekulasi pasar atau sekadar “cocokologi”.

“Pasar bersifat logis. Saat ada pencalonan pejabat, yang menjadi perhatian utama adalah kinerja setelah yang bersangkutan resmi menjabat. Pelemahan rupiah beberapa waktu lalu lebih dipengaruhi sentimen global. Saat ini rupiah justru berbalik menguat karena BI mempertahankan suku bunga acuan serta melemahnya kinerja indeks dolar AS,” ujarnya.

Menurut Gunawan, sulit menyimpulkan secara langsung bahwa perubahan struktur jabatan di bank sentral memberikan dampak instan terhadap pasar keuangan secara keseluruhan.

“Kecuali jika pejabat terpilih menyampaikan komitmen atau kebijakan kerja yang spesifik, terukur, dan berpotensi memberikan dampak langsung terhadap arah kebijakan moneter ke depan,” pungkasnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN