Thursday, September 24, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Dibuka Melemah, Pasar Cermati Keputusan BI dan Yield US Treasury

Mistar.idKamis, 24 September 2026 pukul 09.31 WIB
ihsg_dibuka_melemah_pasar_cermati_keputusan_bi_dan_yield_us_treasury

Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (Foto: CNBC Indonesia/Tri Susilo)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (24/9/2026), setelah menguat signifikan pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG turun 9,93 poin atau 0,16% ke level 6.364,97 pada pembukaan perdagangan. Beberapa menit setelah pasar dibuka, pelemahan IHSG semakin dalam hingga 0,47%.

Pada awal perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.343 hingga 6.363. Sebanyak 232 saham tercatat menguat, 90 saham melemah, dan 312 saham stagnan.

Nilai transaksi tercatat sekitar Rp161,71 miliar dengan volume perdagangan mencapai 302,59 juta saham yang diperdagangkan sebanyak 27.965 kali.

Pergerakan IHSG hari ini turut dipengaruhi respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026, BI mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%.

Selain BI Rate, suku bunga Deposit Facility tetap 4,75% dan Lending Facility 6,50%.

"Rapat Dewan Gubernur BI pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%," kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

Keputusan tersebut sesuai dengan hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga. Sebanyak delapan responden memperkirakan BI Rate tetap 5,75%, sedangkan tiga responden memperkirakan kenaikan 25 basis poin menjadi 6%.

Dengan keputusan tersebut, BI telah mempertahankan suku bunga acuan dalam tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026. Sebelumnya, BI menaikkan BI Rate secara kumulatif 100 basis poin sepanjang Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%.

Dari pasar global, perhatian investor juga tertuju pada lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Yield Treasury 10 tahun naik 15 basis poin menjadi 5,11% pada perdagangan Rabu (23/9/2026), bahkan sempat menyentuh 5,14%.

Kenaikan tersebut terjadi setelah data S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh dengan laju tercepat sejak Juli 2021. Data tersebut juga menunjukkan kenaikan biaya input yang dipengaruhi harga energi.

Yield Treasury 30 tahun turut naik 11 basis poin menjadi 5,4%, sedangkan yield Treasury 2 tahun mencapai sekitar 4,9%. Yield Treasury 5 tahun juga menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007.

Kenaikan yield US Treasury menjadi perhatian bagi pasar Indonesia karena dapat mendorong kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) serta meningkatkan beban pembiayaan pemerintah.

Selain faktor tersebut, pelaku pasar domestik juga mencermati aturan baru perdagangan saham dan rilis data uang beredar. Dari global, perkembangan hubungan Amerika Serikat dan China, termasuk kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS, turut menjadi perhatian pasar. (hm25/CNBC Indonesia)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN