Harga Pupuk Melonjak, Petani Sawit di Tanah Jawa Simalungun Terjepit di Tengah Anjloknya Harga TBS

Seorang petani sawit sedang beraktivitas di areal perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Badai ganda tengah melanda para pekebun kelapa sawit di Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun. Belum usai terpukul oleh anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS), kini mereka harus menghadapi kenyataan pahit berupa kenaikan harga pupuk nonsubsidi di pasaran.
Kombinasi tingginya biaya produksi dan menurunnya pendapatan semakin menekan perekonomian rumah tangga masyarakat pedesaan yang bergantung pada sektor perkebunan sawit.
Salah seorang petani sawit setempat, Zulefendi, mengatakan kenaikan harga pupuk penting seperti NPK, Urea, KCL, dan TSP terjadi secara bertahap, namun terus meningkat hingga mencapai level yang memberatkan petani.
"Harga pupuk NPK saat ini berkisar Rp800 ribu per sak, urea Rp680 ribu per sak, KCL Rp500 ribu per sak, dan TSP Rp500 ribu per sak," ujar Zulefendi kepada Mistar.id, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, kenaikan tersebut tergolong drastis dibandingkan harga sebelumnya.
"Kalau dulu NPK masih sekitar Rp600 ribu per sak. Urea masih bisa didapat Rp360 ribu, sedangkan KCL dan TSP sekitar Rp300 ribu per sak," katanya.
Zulefendi menggambarkan dampak nyata dari kondisi tersebut. Pemilik kebun sawit seluas 2 hektare kini hanya mampu memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp2,5 juta per bulan. Angka itu jauh menurun dibandingkan kondisi normal.
"Saat harga masih normal, setidaknya ada sekitar Rp4 juta yang bisa dibawa pulang. Itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga selama sebulan di kampung," ujarnya.
Tingginya harga pupuk yang dibarengi ketidakstabilan harga sawit disebut berdampak langsung terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Kecamatan Tanah Jawa yang mayoritas menggantungkan hidup dari sektor perkebunan.
Keluhan serupa disampaikan Prayetno, petani sawit lainnya di wilayah tersebut. Ia menilai turunnya harga TBS saat ini sangat memukul kondisi keuangan keluarga petani. Saat ini, harga sawit di tingkat petani berada di kisaran Rp2.910 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat, terlebih menjelang tahun ajaran baru sekolah.
"Sekarang harga sawit hanya sekitar Rp2.910 per kilogram, sementara harga pupuk mahal. Belum lagi kebutuhan anak masuk sekolah dan perlengkapan sekolah yang harus dibeli," katanya.
Bagi masyarakat pedesaan di Kabupaten Simalungun, ketimpangan antara harga jual TBS dan harga pupuk yang terus meningkat menjadi beban berat bagi perekonomian keluarga. Mereka berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga dan meringankan beban petani.
"Harapan kami ada kebijakan yang bisa membuat harga kembali normal, khususnya di Kecamatan Tanah Jawa," tuturnya.
PREVIOUS ARTICLE
IHSG Anjlok 3,26 Persen ke Level 5.412, Saham Big Bank Kompak Merah pada Perdagangan PagiBERITA TERPOPULER






















