Harga Cabai Anjlok Usai Lebaran 2026, Petani Simalungun Terancam Rugi dan Gagal Balik Modal

Tanaman Cabai milik Nomenri di Nagori Sigodang, Kecamatan Panei, Simalungun. (foto:indra/mistar)
Simalungun, MISTAR.ID
Harga cabai merah di tingkat petani di Nagori Sigodang, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, terus mengalami penurunan tajam pascaramadan hingga usai Hari Raya Idulfitri 2026. Kondisi ini membuat petani terancam gagal meraih keuntungan, bahkan kesulitan menutup biaya produksi.
Salah seorang petani muda, Nomenri Sumbayak, mengaku telah lima kali memanen cabai dari masa tanam terakhirnya. Namun, sepanjang periode panen tersebut, harga jual tidak pernah mencapai titik yang diharapkan.
“Paling tinggi Rp13 ribu per kilogram. Sekarang malah turun jadi Rp12 ribu. Ini sudah panen kelima,” ujar Nomenri, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, tren penurunan harga mulai terasa sejak memasuki bulan puasa dan terus berlanjut hingga saat ini. Padahal, pada momen tersebut biasanya petani berharap harga komoditas hortikultura meningkat.
Dengan luas lahan sekitar tiga rante dan jumlah tanaman mencapai 3.000 batang yang ditanam sejak November 2025, ia mengaku telah menggelontorkan modal yang tidak sedikit.
Menurut pria yang akrab dikenal dengan nama Komeng ini, kondisi tersebut sangat memberatkan, mengingat biaya produksi cabai tergolong tinggi, mulai dari pembelian bibit, pupuk, hingga perawatan intensif selama masa tanam.
“Modalnya besar, apalagi untuk perawatan. Penyemprotan itu harus rutin,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan petani lainnya bermarga Saragih. Ia menilai, harga cabai saat ini jauh dari kata layak dan tidak sebanding dengan biaya operasional yang terus meningkat.
“Kalau harga segini terus, jangankan untung, balik modal saja susah. Pupuk dan obat-obatan sekarang mahal,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap petani, khususnya dalam menjaga stabilitas harga di tingkat produsen. Ia berharap pemerintah dapat hadir melalui kebijakan konkret, baik dalam pengendalian harga maupun penguatan jalur distribusi.
Fenomena anjloknya harga cabai ini kembali menegaskan persoalan klasik sektor pertanian hortikultura, yakni fluktuasi harga yang tidak terkendali saat panen raya. Tanpa intervensi yang tepat, kondisi ini dikhawatirkan akan menurunkan minat petani untuk kembali menanam cabai pada musim berikutnya.
Jika hal tersebut terjadi, bukan tidak mungkin akan berdampak pada pasokan cabai di pasaran, yang pada akhirnya justru memicu lonjakan harga di tingkat konsumen. (hm27)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















