Monday, August 31, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Bursa Asia Anjlok, IHSG Hanya Turun Tipis pada Awal Perdagangan 31 Agustus

Mistar.idSenin, 31 Agustus 2026 pukul 09.31 WIB
bursa_asia_anjlok_ihsg_hanya_turun_tipis_pada_awal_perdagangan_31_agustus

Ilustrasi. (foto: AI/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya melemah tipis pada awal perdagangan Senin (31/8/2026), di tengah tekanan lebih dalam yang melanda sejumlah bursa utama Asia akibat kembali memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dikutip dari Antara, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka turun 7,01 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.511,11. Sementara indeks LQ45 melemah 1,11 poin atau 0,17 persen menjadi 640,71.

Pelemahan IHSG relatif terbatas dibandingkan sejumlah pasar saham utama Asia yang berguguran sejak perdagangan pagi.

Melansir Kontan, pada pukul 08.21 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang merosot 1,98 persen ke 65.092,29. Kospi Korea Selatan bahkan anjlok 2,53 persen ke level 6.616,97.

Indeks Taiex Taiwan juga turun 1,34 persen menjadi 45.711,48, sementara Hang Seng Hong Kong melemah 0,64 persen ke 25.420,63.

Namun, tidak seluruh bursa Asia berada di zona merah. ASX 200 Australia tercatat menguat 0,33 persen menjadi 9.122,6 dan Straits Times Singapura naik 0,34 persen ke 5.719,46.

Tekanan terhadap pasar saham Asia terjadi setelah konflik AS-Iran kembali memanas pada akhir pekan.

Sebelumnya, seperti dilaporkan Associated Press (AP), pasukan AS menyerang peluncur roket Iran di Selat Hormuz, Minggu (30/8/2026). Serangan tersebut menjadi aksi militer pertama Washington terhadap Iran dalam sebulan terakhir.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik yang disebut diarahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania. Militer Yordania menyatakan delapan rudal yang memasuki wilayah udaranya berhasil dicegat pada Senin dini hari.

Eskalasi terbaru langsung berdampak pada harga energi. Minyak AS menguat 1,8 persen menjadi US$84,94 per barel, sedangkan Brent naik 1,9 persen menjadi US$89,79 per barel.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik tersebut karena dalam kondisi normal dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Kontan melaporkan pasar meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September menjadi sekitar 57 persen setelah pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengenai inflasi.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menambah tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham.

Di tengah tekanan itu, koreksi IHSG pada pembukaan perdagangan masih jauh lebih terbatas dibandingkan Nikkei, Kospi maupun Taiex.

IHSG sebelumnya ditutup di level 6.518,12 pada Jumat (28/8/2026), turun tipis 0,06 persen. Dengan pembukaan Senin di 6.511,11, indeks hanya kehilangan 7,01 poin dari posisi penutupan akhir pekan lalu.

Pergerakan selanjutnya akan menentukan apakah IHSG mampu bertahan dari tekanan pasar regional atau mengikuti pelemahan lebih dalam yang terjadi di sejumlah bursa Asia. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN