Bisnis Global Kian Sulit di 2025: Alarm WEF soal Melemahnya Kerja Sama Dunia

Ilustrasi, Bisnis Global Kian Sulit di 2025. (foto:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Lingkungan bisnis global memasuki fase yang semakin menantang pada 2025. Survei terbaru World Economic Forum (WEF) mengungkap bahwa semakin banyak pelaku usaha merasakan tekanan serius akibat melemahnya kerja sama global, meningkatnya fragmentasi geopolitik, serta hambatan lintas negara yang kian kompleks.
Temuan ini menjadi sinyal penting bagi dunia usaha, investor, dan pembuat kebijakan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda.
Bisnis Makin Sulit: Apa Kata Pelaku Usaha Global?
Dalam survei global yang melibatkan 799 eksekutif dari 81 negara, WEF mencatat:
- 43% responden menilai berbisnis lebih sulit pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya
- Hanya 7% yang merasakan adanya perbaikan lingkungan usaha
- Sisanya menilai kondisi stagnan atau penuh ketidakpastian
Angka ini menunjukkan pergeseran signifikan sentimen pelaku usaha, terutama mereka yang bergantung pada rantai pasok internasional, perdagangan lintas negara, dan mobilitas modal global.
Kerja Sama Global Melemah, Hambatan Bisnis Menguat
Salah satu temuan utama WEF adalah penurunan kualitas kerja sama global di berbagai sektor strategis:
- Hampir 40% eksekutif menyebut hambatan perdagangan internasional meningkat
- Akses terhadap tenaga kerja lintas negara dan aliran modal global dinilai semakin terbatas
- 42% responden melihat penurunan kerja sama di bidang perdamaian dan keamanan global
- Sekitar 29% menilai kolaborasi iklim dan sumber daya alam ikut memburuk
Kondisi ini berdampak langsung pada biaya logistik, kepastian investasi, serta keberlanjutan operasi bisnis multinasional.
Faktor Pendorong: Dari Proteksionisme hingga Geopolitik
WEF mengidentifikasi sejumlah faktor struktural yang memperberat iklim usaha global:
1. Proteksionisme Perdagangan
Kebijakan tarif dan pembatasan impor, khususnya dari negara ekonomi besar, kembali meningkat pada 2025. Hal ini menekan efisiensi rantai pasok global dan memicu ketidakpastian harga.
2. Fragmentasi Sistem Multilateral
Institusi global seperti WTO menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya kebijakan unilateral dan blok-blok ekonomi baru yang lebih tertutup.
3. Tekanan Non-Ekonomi
Isu perubahan iklim, keamanan siber, hingga regulasi teknologi lintas negara kini menjadi variabel utama dalam keputusan bisnis, bukan lagi sekadar risiko tambahan.
Tak Sepenuhnya Suram: Celah Peluang Masih Terbuka
Di tengah tekanan tersebut, laporan WEF juga mencatat beberapa perkembangan positif:
- Kapasitas energi terbarukan (surya dan angin) meningkat sekitar 67% secara tahunan pada 2025, menunjukkan kuatnya arus investasi hijau
- Munculnya model kerja sama baru berbasis koalisi kecil dan kemitraan sektor swasta, menggantikan mekanisme multilateral tradisional yang melemah
Tren ini menunjukkan bahwa dunia usaha mulai beradaptasi, meski dalam lanskap global yang lebih terfragmentasi.
Peringatan Dini bagi Dunia Usaha
WEF mencatat bahwa 85% anggota Global Future Councils bahkan menunjukkan tingkat pesimisme yang lebih tinggi dibandingkan eksekutif pada umumnya. Ini menandakan kekhawatiran terhadap masa depan kerja sama global tidak bersifat sementara.
Bagi pelaku usaha, laporan ini menjadi alarm strategis:
keunggulan kompetitif ke depan tidak hanya ditentukan oleh efisiensi, tetapi juga kemampuan membaca geopolitik, fleksibilitas rantai pasok, dan strategi kolaborasi alternatif.
Kesimpulan: Laporan WEF menegaskan bahwa 2025 bukan sekadar tahun penuh tantangan, tetapi titik balik bagi bisnis global. Melemahnya kerja sama internasional mempersempit ruang gerak dunia usaha, sekaligus memaksa pelaku bisnis untuk berinovasi dalam cara berkolaborasi.
Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, ketahanan bisnis tidak lagi opsional — melainkan kebutuhan utama.
(berbagaisumber/ai/hm27)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER



















