Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Bencana Sumatera Picu Ketidakseimbangan Pasar, Pengamat Prediksi Inflasi Sumut 2026 Tinggi

Mistar.idJumat, 26 Desember 2025 17.14
journalist-avatar-top
AA
_bencana_sumatera_picu_ketidakseimbangan_pasar_pengamat_prediksi_inflasi_sumut_2026_tinggi_

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Rangkaian bencana alam berupa banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) pada akhir November lalu diprediksi akan menyisakan trauma ekonomi yang panjang.

Gangguan distribusi dan kerusakan lahan pertanian telah menciptakan ketidakseimbangan pasar (disequilibrium) yang mengancam stabilitas inflasi di tahun 2026.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai kondisi saat ini ditandai dengan fenomena kontradiktif, yaitu kelangkaan barang di wilayah konsumen, namun terjadi surplus yang tertahan di wilayah produsen.

"Harga cabai merah di Sumut yang saat ini terbilang sangat murah sebesar Rp20.000 per kilogram, sebenarnya belum memperhitungkan potensi produksi yang tertahan di Aceh. Banyak petani melaporkan hasil panen mereka tidak bisa didistribusikan karena akses jalan yang belum pulih sepenuhnya," ujarnya, Jumat (26/12/2025).

Gunawan merinci empat faktor krusial yang dapat memicu lonjakan inflasi pada semester pertama tahun depan. Pertama kerugian akibat panen yang gagal didistribusikan membuat petani kehilangan modal untuk memulai masa tanam baru.

Kemudian bencana memaksa petani di wilayah Batubara, Deli Serdang, hingga Langkat melakukan tanam ulang. Hal ini otomatis memundurkan jadwal panen nasional di tengah risiko gagal tanam akibat curah hujan yang masih tinggi.

Menurutnya, tidak ada jaminan lahan terdampak bencana akan ditanami kembali. Ada risiko lahan pertanian menghilang atau beralih fungsi karena kondisi tanah yang tidak lagi memungkinkan.

Selanjutnya perubahan pola tanam membuat ketersediaan barang di masa depan sulit diproyeksikan, sehingga pengendalian inflasi menjadi tantangan yang sangat berat bagi pemerintah.

Ketidakseimbangan pasar ini diperkirakan akan terus berlanjut setidaknya hingga enam bulan ke depan. Gunawan memperingatkan adanya risiko lonjakan harga pada momen-momen besar di tahun 2026.

"Kita baru bisa melihat keseimbangan pasar setidaknya dalam 6 bulan mendatang paling cepat. Ada ancaman inflasi tinggi di beberapa momen besar seperti Ramadan dan Idulfitri. Harga kebutuhan pokok seperti cabai, beras, dan protein berpotensi naik, terutama cabai yang berisiko naik sangat tinggi jika tidak diantisipasi sejak dini," ujarnya. (hm24)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN