Rasa Malu Faktor Utama Seseorang Sulit Keluar dari Jerat Pinjol, Begini Penjelasan Psikolog

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Jakarta, MISTAR.ID
Tekanan psikologis, terutama rasa malu, menjadi salah satu faktor utama yang membuat seseorang sulit keluar dari jerat pinjaman online (pinjol).
Hal tersebut disampaikan psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi, yang menilai rasa malu kerap membuat individu memilih menyembunyikan masalah utang, bahkan dari keluarga terdekat.
“Banyak orang menyembunyikan utang pinjol karena merasa gagal mengelola keuangan. Rasa malu ini membuat mereka memilih diam, padahal justru memperburuk kondisi,” ujar Meity, dikutip dari Kompas.com, Jumat (26/12/2025).
Menurutnya, dalam banyak budaya, kemampuan mengelola keuangan masih sering dikaitkan dengan nilai diri dan keberhasilan pribadi. Ketika seseorang terlilit utang, terlebih pinjol yang memiliki stigma negatif, muncul perasaan tidak berharga dan takut dinilai buruk oleh lingkungan.
Selain faktor internal, tekanan sosial turut memperkuat rasa malu. Meity menyoroti peran lingkungan dan media sosial yang sering menampilkan standar hidup tertentu, sehingga individu merasa harus selalu terlihat baik-baik saja. Kondisi ini mendorong sebagian orang menggunakan pinjol secara diam-diam sebagai solusi cepat.
Meity menjelaskan, rasa malu juga menghambat pengambilan keputusan yang sehat. Individu yang tertekan cenderung mencari jalan keluar sendiri, termasuk kembali menggunakan pinjol lain untuk menutup utang sebelumnya. Hal ini, menurutnya, membentuk lingkaran masalah yang berkelanjutan.
“Semakin malu, semakin tertutup. Semakin tertutup, semakin sulit mencari solusi yang realistis,” katanya.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu stres kronis, kecemasan, gangguan tidur, hingga depresi. Beban emosional yang ditanggung sendiri juga berpotensi menurunkan kualitas hidup dan mengganggu hubungan sosial.
Meity menegaskan, langkah awal untuk keluar dari jerat pinjol adalah mengubah cara pandang terhadap rasa malu. Mengalami masalah keuangan bukanlah kegagalan moral, melainkan situasi yang bisa dihadapi dan diperbaiki.
“Mengakui sedang kesulitan adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan,” ujarnya.
Ia menyarankan agar individu mulai berbicara dengan orang tepercaya dan mencari dukungan sosial. Jika tekanan emosional dirasa terlalu berat, bantuan profesional seperti psikolog dinilai penting untuk membantu mengelola rasa malu, kecemasan, dan tekanan mental.
“Memutus lingkaran pinjol bukan hanya soal melunasi utang, tetapi juga memulihkan kesehatan mental dan keberanian untuk meminta bantuan,” tutur Meity. (hm25)
























