Mengenal Ritual Shinto Kuno

Ritual Shinto Kuno. (Foto: Ipinimg/Mistar)
Tokyo, MISTAR.ID
Ratusan penganut Shinto menyambut datangnya tahun baru dengan berendam di kolam berisi air es dalam ritual Kanchu Misogi. Tradisi tersebut diyakini berfungsi menyucikan raga dan jiwa, sekaligus membawa keberuntungan di awal tahun.
Tahun Baru Shinto yang dikenal sebagai Shogatsu diperingati setiap 1 Januari mengikuti kalender Gregorian, bukan kalender lunar. Perayaan spiritual ini memadukan ritual Shinto kuno dengan tradisi budaya Jepang dan berlangsung selama tiga hari.
Pada Minggu (3/1/2026), sekitar 100 warga Jepang, baik laki-laki maupun perempuan, memadati Kuil Teppuzu Inari di Tokyo. Mayoritas peserta adalah pria yang mengenakan cawat putih, sementara peserta perempuan mengenakan jubah putih.
Mereka mengikuti ritual Kanchu Misogi. Di area kuil, sebuah kolam setinggi lutut orang dewasa dipenuhi air dingin dengan bongkahan es yang mengapung di permukaannya. Dilansir dari Detik Travel, Kamis (15/1/2026), iringan musik perkusi dan seruling mengalun, menciptakan suasana khidmat sekaligus dramatis.
Dengan tangan digenggam di depan dada, para peserta melantunkan doa “Haraedo-no-Okami” untuk memohon kepada dewi penyucian agar dosa-dosa mereka dihapuskan.
Usai doa, para peserta berlari mengelilingi jalan di sekitar kuil dan melakukan pemanasan sebelum memasuki kolam air es. Mereka kemudian turun ke dalam kolam secara bergantian.
Saat berada di dalam kolam, peserta menyiramkan air ke tubuh menggunakan ember kayu sambil meneriakkan kata “ai” sebagai bentuk penguatan mental. Peserta lain yang menunggu di tepi kolam memberikan sorakan dan dukungan.
Penyucian merupakan inti dari praktik Shinto kuno di Jepang. Ritual ini dipercaya mampu mengusir roh jahat serta membersihkan jiwa manusia.
Di Kuil Teppuzu Inari, ritual tersebut telah diselenggarakan secara rutin selama 71 tahun. Shinto, sebagai agama asli Jepang yang telah berkembang selama berabad-abad, berlandaskan keyakinan bahwa roh suci bersemayam di alam dan seluruh makhluk hidup.
Jepang sendiri merupakan monarki konstitusional yang dipimpin Kaisar Naruhito, 65 tahun, yang dipandang sebagai otoritas tertinggi dalam Shinto meskipun perannya terbatas dalam ranah politik.
Pada awalnya, ritual ini digelar sebagai upacara penyucian bagi dewa setempat. Seiring waktu, pihak kuil membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk ikut serta melalui mekanisme pendaftaran.
“Pendaftaran ditutup lebih awal tahun ini karena minat yang luar biasa,” ujar penyelenggara. (hm20)























