13.9 C
New York
Friday, April 12, 2024

Manusia Akan Kehilangan 1 Detik

Washington DC, MISTAR.ID

Penelitian terbaru memperkirakan pencairan es di kutub akan mempengaruhi rotasi Bumi, memperlambatnya dan mengganggu tren percepatan waktu dalam sehari. Akibatnya, manusia akan kehilangan satu detik.

Rotasi Bumi di sekitar porosnya memengaruhi durasi hari, yaitu jumlah jam, menit, dan detik dalam satu hari. Namun, rotasi ini tidak konstan karena dapat berubah sedikit tergantung pada peristiwa di permukaan Bumi dan intinya yang cair.

Perubahan ini, meskipun hampir tidak terlihat, kadang-kadang mengakibatkan perlunya penyesuaian pada ‘detik kabisat’ dalam sistem waktu global dan berdampak besar pada sistem komputasi.

Setelah bertahun-tahun terjadi penambahan detik, rotasi Bumi kini bergerak lebih cepat akibat perubahan pada intinya, setelah tren perlambatan yang berlangsung cukup lama.

Baca juga:  Dari Tinjauan Sains, Ilmuwan Ragukan Peristiwa Air Bah Terjadi di Bumi

Patrizia Tavella, anggota Departemen Waktu di Biro Internasional Pengukuran dan Bobot di Prancis, menyatakan bahwa penambahan satu detik negatif dalam sehari belum pernah terjadi sebelumnya dan dapat menimbulkan masalah.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature berjudul A global timekeeping problem postponed by global warming dan diterbitkan pada Rabu (27/3/24) kemarin, mengungkapkan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh pemanasan global dan proses di inti Bumi.

Pencairan es di kutub telah menunda peristiwa penambahan detik selama tiga tahun, dari tahun 2026 menjadi 2029.

Duncan Agnew, seorang profesor geofisika di University of California San Diego dan penulis studi tersebut menyatakan bahwa memahami dampak perubahan iklim pada waktu global sangatlah penting.

“Sebelum tahun 1955, satu detik didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan bagi Bumi untuk melakukan satu rotasi terhadap bintang-bintang. Namun, pengenalan jam atom yang sangat presisi telah menggantikan definisi ini,” kata Duncan dalam sebuah pernyataan, Jumat (29/3/24).

Sejak akhir 1960-an, dunia telah menggunakan Waktu Universal Terkoordinasi (UTC), yang menggunakan jam atom tetapi tetap memperhitungkan rotasi Bumi.

Namun, karena rotasi Bumi tidak konstan, kedua skala waktu ini mulai menyimpang dari waktu ke waktu. Ini menyebabkan perlunya penambahan ‘detik kabisat secara periodik untuk menjaga keduanya sejalan.

“Perubahan dalam rotasi Bumi dalam jangka panjang didominasi oleh gesekan pasang surut di dasar laut yang memperlambat rotasinya,” tambahnya.

Agnew mengatakan bahwa pencairan es di kutub, yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, menjadi faktor signifikan dalam memperlambat rotasi Bumi. (cnn/hm20)

Related Articles

Latest Articles