Wisata Mangrove Park Baru Batu Bara Diserbu Saat Lebaran 2026

Wisata Mangrove Park Baru di Batu Bara. (Foto: Istimewa/Mistar)
Batu Bara, MISTAR.ID
Libur Lebaran 2026 menghadirkan destinasi yang langsung mencuri perhatian wisatawan. Batubara Mangrove Park di kawasan Pantai Sejarah kini menjadi primadona wisata keluarga yang menawarkan pengalaman berbeda, memadukan rekreasi alam dengan edukasi lingkungan.
Terletak di Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara, kawasan ini berdiri di atas hutan mangrove eksisting seluas sekitar 15 hektare.
Pengembangan destinasi ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang sejak tahun 2019 ketika Pemerintah Kabupaten Batu Bara mulai menggandeng berbagai pihak, termasuk BUMN dan sektor swasta, untuk melakukan penanaman mangrove secara masif.
Transformasi besar terjadi pada tahun 2023, saat kawasan ini direhabilitasi dengan konsep eduwisata.
Program tersebut tidak hanya bertujuan mempercantik kawasan pesisir, tetapi juga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan melalui konservasi mangrove dan perlindungan satwa langka.
Kini Batubara Mangrove Park semakin ramai dikunjungi apalagi ketika libur lebaran. Keunikan konsep yang ditawarkan membuat kawasan ini cepat dikenal sebagai destinasi wisata edukatif yang cocok untuk semua kalangan, khususnya keluarga yang ingin mengisi waktu liburan dengan aktivitas yang bermanfaat.
Salah satu daya tarik utama di lokasi ini adalah jembatan kayu sepanjang kurang lebih 200 meter yang membentang menuju arah laut. Di sepanjang jembatan tersebut, pengunjung disuguhi pemandangan rimbunnya hutan mangrove di sisi kiri dan kanan.
Suasana yang tenang berpadu dengan panorama alam menjadikan pengalaman berjalan di jalur ini terasa menyenangkan sekaligus menenangkan.
Tidak hanya itu, kawasan ini juga menghadirkan berbagai spot kuliner yang dikelola oleh pelaku UMKM setempat. Pengunjung dapat menikmati aneka makanan khas pesisir sambil bersantai di tengah suasana alam yang asri.
Kehadiran UMKM ini menjadi bukti nyata bahwa pengembangan wisata turut berdampak langsung terhadap perekonomian warga sekitar.
Berdasarkan data dari pemerintah daerah, pengelolaan kawasan ini melibatkan sekitar 40 tenaga kerja dari masyarakat lokal. Model pengelolaan berbasis komunitas ini dinilai efektif dalam menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga desa.
Lonjakan pengunjung pun terlihat signifikan, terutama saat akhir pekan dan libur besar. Dalam satu hari, jumlah wisatawan yang datang bahkan bisa mencapai sekitar 3.000 orang. Angka tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap destinasi wisata yang mengusung konsep ramah lingkungan.
Sejumlah pengunjung yang datang dari luar daerah mengaku tertarik karena konsep wisata yang tidak hanya menyuguhkan keindahan, tetapi juga memberikan nilai edukasi tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Selain itu, suasana yang nyaman dan fasilitas yang terus berkembang membuat mereka merasa betah berlama-lama di lokasi ini.
Salah seorang pengunjung asal Medan, Rina Sari, menilai Batubara Mangrove Park sebagai destinasi yang layak dikunjungi bersama keluarga. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan jauh yang ditempuh terbayar dengan suasana alam yang asri serta pengalaman berjalan di tengah hutan mangrove yang jarang ditemui di daerah lain.
“Ada perubahan besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, terutama dari segi penataan kawasan dan kenyamanan pengunjung yang kini jauh lebih baik. Cocok untuk menikmati suasana Pantai tanpa takut kepanasan,” ujarnya, Senin (24/3/2026).
Hal senada juga dirasakan oleh Siti Rahma yang datang bersama rombongan. Ia menilai tempat ini tidak hanya cocok untuk rekreasi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar bagi anak-anak tentang pentingnya menjaga lingkungan, khususnya ekosistem mangrove.
Dengan segala potensi yang dimiliki, Batubara Mangrove Park Pantai Sejarah kini menjadi salah satu ikon wisata baru di Sumatera Utara. Ke depan, kawasan ini diharapkan terus berkembang sebagai destinasi unggulan yang mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian lingkungan. (hm20)






















