Pariwisata Indonesia Tumbuh pada 2026, Apakah Masyarakat Lokal Ikut Sejahtera?

Pariwisata Indonesia Tumbuh pada 2026, Apakah Masyarakat Lokal Ikut Sejahtera? (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (9/10/2026) — Pertumbuhan pariwisata Indonesia terus berlanjut pada 2026. Namun, di tengah kenaikan biaya perjalanan dan ketidakpastian global, ramainya wisatawan belum tentu berarti pendapatan masyarakat lokal ikut meningkat.
Pariwisata Indonesia masih tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sepanjang Januari–Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 10,58 juta, meningkat 5,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) menembus 842,15 juta perjalanan, tumbuh 4,29 persen.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut menunjukkan aktivitas perjalanan wisata di Indonesia masih bergerak positif. Namun, ada pertanyaan yang tak kalah penting: siapa yang paling menikmati pertumbuhan pariwisata—pengusaha besar, pelaku UMKM, atau masyarakat yang bekerja di destinasi wisata?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, dan biaya perjalanan menekan industri pariwisata di berbagai negara. Kenaikan jumlah wisatawan memang membuka peluang ekonomi, tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa keuntungan usaha dan kesejahteraan masyarakat ikut meningkat.
Wisatawan Domestik Jadi Penopang Pariwisata Indonesia
Di tengah ketidakpastian pasar internasional, wisatawan domestik menjadi salah satu penopang penting aktivitas pariwisata nasional. Perjalanan keluarga, liburan akhir pekan, wisata kuliner, hingga kunjungan ke destinasi alam menggerakkan permintaan terhadap hotel, restoran, transportasi, pemandu wisata, dan produk lokal.
Besarnya pasar domestik juga memberi peluang bagi daerah yang belum menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara. Dengan paket perjalanan terjangkau, promosi digital yang tepat, dan pengalaman wisata yang menarik, destinasi daerah dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Namun, pertumbuhan perjalanan belum tentu menghasilkan pendapatan yang merata. Destinasi yang hanya ramai saat musim liburan berisiko menghadapi pendapatan yang tidak stabil. Sebaliknya, kunjungan yang tersebar sepanjang tahun berpotensi memberikan arus pendapatan lebih konsisten bagi pekerja dan pelaku usaha.
Malaysia, Australia, dan China Jadi Pasar Penting
Data BPS untuk Agustus 2026 menunjukkan Malaysia, Australia, dan China termasuk pasar utama wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Malaysia menyumbang 18,52 persen kunjungan berdasarkan negara asal paspor, disusul Australia sebesar 10,75 persen dan China sebesar 10,16 persen.
Komposisi tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga pasar regional sekaligus memperluas jangkauan internasional. Kedekatan geografis dan konektivitas menjadi modal untuk menarik wisatawan dari Asia Tenggara, sedangkan pasar Australia berpotensi mendukung wisata bahari, selancar, dan petualangan alam.
Meski demikian, diversifikasi pasar tidak cukup diukur dari banyaknya negara asal wisatawan. Indonesia juga perlu mendorong lama tinggal yang lebih panjang, belanja yang lebih besar, serta transaksi yang melibatkan usaha lokal.
Dengan demikian, strategi pemasaran sebaiknya tidak hanya mengejar jumlah kedatangan, tetapi juga kualitas pengeluaran wisatawan dan luasnya manfaat ekonomi yang tercipta di destinasi.
Pariwisata Ramai Belum Tentu Untung Besar
Kenaikan jumlah wisatawan dapat meningkatkan permintaan terhadap kamar hotel, makanan, transportasi, dan aktivitas wisata. Namun, peningkatan penjualan tidak otomatis menghasilkan laba yang lebih besar.
Hotel yang ramai, misalnya, tetap menghadapi biaya tenaga kerja, listrik, pemeliharaan, dan pengadaan bahan baku. UMKM kuliner juga dapat mengalami kenaikan omzet tanpa peningkatan keuntungan apabila harga bahan pangan, sewa tempat, dan biaya distribusi ikut naik.
Besarnya manfaat ekonomi turut ditentukan oleh kepemilikan usaha dan rantai pasok. Ketika hotel dan restoran membeli bahan pangan, kerajinan, serta jasa dari pemasok lokal, lebih banyak nilai ekonomi berpeluang berputar di daerah. Sebaliknya, jika kebutuhan usaha dipenuhi pemasok dari luar wilayah, sebagian pendapatan dapat mengalir keluar dari perekonomian setempat.
Kondisi pekerja juga perlu diperhitungkan. Bertambahnya lapangan kerja belum tentu meningkatkan kesejahteraan jika upah tidak memadai, kontrak tidak stabil, atau pekerjaan hanya tersedia pada musim tertentu.
Karena itu, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa kelompok usaha tertentu paling diuntungkan hanya dari angka pertumbuhan kunjungan. Penilaian tersebut memerlukan data tentang laba usaha, upah, kepemilikan bisnis, pengadaan lokal, dan distribusi pendapatan.
Bali dan Danau Toba: Menambah Nilai, Bukan Sekadar Kunjungan
Pengembangan pengalaman wisata yang menghubungkan berbagai usaha lokal dapat menjadi salah satu cara memperluas manfaat ekonomi. Di Bali, misalnya, perjalanan wisata dapat dipadukan dengan kunjungan ke perajin, desa budaya, serta usaha kuliner lokal.
Sementara itu, di kawasan Danau Toba, wisata alam dapat dikembangkan bersama pengalaman budaya Batak, produk UMKM, dan kegiatan desa wisata. Pola semacam ini berpotensi membuka peluang belanja yang lebih luas, meskipun hasilnya tetap bergantung pada kualitas layanan, aksesibilitas, dan keterlibatan masyarakat.
Promosi digital pun perlu dinilai berdasarkan hasil nyata. Jumlah penayangan dan pengikut media sosial dapat membantu memperkenalkan destinasi, tetapi pemesanan, lama tinggal, pengeluaran wisatawan, dan transaksi kepada usaha lokal lebih relevan untuk menilai dampak ekonominya.
Pertumbuhan juga harus memperhitungkan daya dukung lingkungan. Pengelolaan sampah, ketersediaan air, transportasi, dan perlindungan alam menjadi bagian penting dari keberlanjutan destinasi. Tanpa tata kelola yang memadai, peningkatan kunjungan justru berpotensi menambah beban masyarakat dan menurunkan kualitas pengalaman wisata.
Bagaimana Mengukur Pariwisata yang Benar-Benar Mensejahterakan?
Untuk mengetahui apakah pertumbuhan pariwisata meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah dan pelaku industri perlu melihat indikator yang melampaui jumlah kedatangan dan tingkat hunian hotel.
Pendapatan bersih UMKM, perkembangan upah pekerja, stabilitas pekerjaan, porsi belanja wisatawan yang masuk ke usaha lokal, serta kontribusi pariwisata terhadap perekonomian daerah dapat memberikan gambaran yang lebih utuh.
Data tersebut juga perlu dibedakan menurut wilayah dan skala usaha. Pertumbuhan di destinasi populer belum tentu mencerminkan kondisi pelaku usaha kecil atau daerah yang belum berkembang sebagai tujuan wisata utama.
Di sisi lain, kemitraan dengan pemasok lokal, pelatihan tenaga kerja, penguatan UMKM, dan pengembangan wisata berbasis komunitas dapat membantu memperluas manfaat ekonomi. Keberhasilannya perlu diukur melalui perubahan pendapatan dan kualitas pekerjaan, bukan hanya jumlah program yang dijalankan.
Pertumbuhan Pariwisata Harus Menguntungkan Masyarakat
Angka kunjungan Januari–Agustus 2026 menunjukkan pariwisata Indonesia masih memiliki momentum pertumbuhan. Pasar domestik yang besar dan beragamnya destinasi menjadi modal penting untuk menghadapi perubahan kondisi global.
Namun, data tersebut belum menjawab siapa yang memperoleh keuntungan terbesar. Untuk mengetahuinya, diperlukan bukti yang menghubungkan pertumbuhan perjalanan dengan laba usaha, pendapatan pekerja, dan perputaran ekonomi di tingkat lokal.
Pada akhirnya, keberhasilan pariwisata Indonesia bukan hanya soal berapa banyak wisatawan yang datang. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar nilai ekonomi yang tercipta, seberapa luas manfaatnya dinikmati masyarakat, dan apakah pertumbuhan tersebut dapat berlangsung tanpa merusak lingkungan yang menjadi daya tarik utama destinasi.
(kemenpar/bps/*/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Indonesia Masuk 10 Negara Terbaik Dunia 2026















































