Tuesday, October 6, 2026
home_banner_first
SUMUT

Populasi Anjing Tinggi, Toba Masih Butuh Proses Panjang Bebas Rabies

Mistar.idSelasa, 6 Oktober 2026 pukul 21.15 WIB
populasi_anjing_tinggi_toba_masih_butuh_proses_panjang_bebas_rabies

Kepala UPTD Puskesmas Wilayah II Porsea, Kabupaten Toba, drh. Ruth Apristeen Damanik. (Foto: Nimrot/Mistar)

news_banner

Toba, MISTAR.ID (6/10/2026) – Kepala UPTD Puskesmas Wilayah II Porsea, Kabupaten Toba, drh. Ruth Apristeen Damanik, mengakui bahwa upaya untuk terbebas dari rabies di Kabupaten Toba masih membutuhkan proses panjang, mengingat tingginya populasi anjing yang dipelihara masyarakat.

Menurut Ruth, penyuluhan kepada masyarakat agar melakukan vaksinasi terhadap hewan peliharaan, seperti kucing dan terutama anjing, terus dilakukan. Populasi anjing di Kabupaten Toba diperkirakan mencapai sekitar 20.000 ekor. Karena itu, hewan peliharaan masyarakat seharusnya divaksin agar tidak menjadi penyebar virus rabies.

"Karena sesungguhnya rabies bisa dicegah dari penyebabnya, yakni hewan pembawa rabies seperti anjing, kucing, monyet, dan kelelawar. Namun, yang lebih banyak atau dominan hidup berdampingan dengan masyarakat Toba adalah anjing. Sementara kucing ada beberapa. Maka, harus dilakukan penyuntikan secara berkala sekali dalam enam bulan," ujar Ruth, Selasa (6/10/2026).

Dikatakannya, selain kendala kesadaran masyarakat dalam melakukan vaksinasi terhadap hewan peliharaan, pihaknya juga masih mengalami keterbatasan vaksin rabies, khususnya untuk anjing.

"Memang hingga saat ini kesadaran masyarakat mulai meningkat untuk menyuntik anjing secara swadaya, kendati masih ada yang kurang. Sementara ketersediaan vaksin tidak setiap tahun mencukupi di Kabupaten Toba. Untuk mencapai imunitas hewan peliharaan di suatu tempat, minimal 70 persen harus mendapatkan vaksin. Misalnya, di Balige jumlah anjing 3.000 ekor, maka minimal 2.100 ekor anjing harus disuntik agar lingkungan aman," ucapnya.

Perlu diketahui, lanjut Ruth, masyarakat juga harus mengetahui ciri-ciri anjing yang sudah terpapar rabies. Ada dua tipe, salah satunya tipe diam atau bodoh. Anjing dengan tipe ini sering bersembunyi, penakut, dan berada di tempat gelap. Kemudian, jika terkejut, anjing tersebut dapat langsung menggigit.

Selanjutnya, tipe ganas biasanya selalu agresif, mondar-mandir, bahkan sampai menabrak tembok atau benda lainnya. Anjing tersebut juga mengeluarkan liur dari mulut dan ekornya masuk ke dalam badan.

"Setelah melakukan gigitan terhadap hewan lainnya maupun manusia, anjing penyebar rabies tersebut tidak lama kemudian akan meninggal. Paling lama, hewan penular rabies yang menggigit tersebut meninggal selama 14 hari, meskipun sangat jarang selama itu. Rata-rata tiga sampai sembilan hari sudah meninggal atau mati," ujarnya.

Karena itu, Ruth menekankan setiap orang yang terkena gigitan anjing, sekecil apa pun lukanya, agar segera melaporkan kepada petugas kesehatan terdekat, minimal bidan, untuk mendapatkan penanganan dasar dan menentukan tindakan selanjutnya.

"Yang terjadi di lapangan, banyak masyarakat selalu mengabaikan gigitan anjing sebab gigitannya tidak terlalu besar. Orang yang digigit tidak segera melaporkannya kepada petugas kesehatan sehingga berpotensi fatal tertular virus rabies," ucapnya.

Perlu diingat, gigitan anjing yang berisiko tinggi antara lain pada jari tangan, jari kaki, serta daerah bahu ke atas. Jika bagian tersebut digigit oleh hewan penular rabies, orang yang menjadi korban gigitan sudah seharusnya mendapatkan suntikan vaksin antirabies (VAR).

"Tetapi untuk gigitan di betis dan anjing tersebut tidak memiliki ciri-ciri keganasan atau tipe bodoh, maka kita tunggu selama 14 hari kondisi anjing penggigit. Karena kalau memang rabies, paling lama hewan penular rabies atau anjing yang menggigit tentu akan mati. Maka, korban yang digigit harus di-VAR," tuturnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN